Tutorial Cara Membuat Menu Di Blog Dengan Mudah Jika semua kode sudah dimasukkan klik Simpan. Sampai tahap ini blog sobat sudah memiliki menu horizontal, namun saya yakin sobat ingin menu-menu tersebut sesuai keinginan. Jika demikian, mari kita lanjutkan edit menu horizontal tersebut. Cara edit menu-menu yang ada di blog Pada kode css dan html yang sobat masukkan tadi ada kode

Jumat, 17 April 2015

Sisi Lain Alm. KHR. Ach. Fawaid As'sd

Kiai Fawaid, Kolektor Terlengkap Lagu Rhoma Irama

Di sela kesibukannya sebagai pengasuh pesantren, KHR Ahmad Fawaid As’ad Syamsul Arifin ternyata punya hobi yang cukup langka. Kiai dengan ribuan santri itu masih menyempatkan diri mengoleksi lagu-lagu karya Rhoma Irama. Saking banyaknya lagu yang dikoleksi, sampai-sampai Bang Haji (panggilan akrab Rhoma Irama) menyebut Kiai Fawaid sebagai kolektor lagu-lagunya terlengkap se-dunia.
Hubungan Bang Haji dengan Kiai Fawaid memang sangat dekat. Kalau kebetulan tengah ada acara di wilayah tapal kuda, Bang Haji selalu menyempatkan diri bersilaturahmi ke kediaman Kiai Fawaid di Ponpes Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Kecamatan Banyuputih, Situbondo.

Bahkan tak jarang, Kiai Fawaid malah ikut mendampingi perjalanan Rhoma Irama selama berada di daerah tapal kuda. Kedekatan Bang Haji dengan Kiai Fawaid bukan semata-mata karena putra (alm) KHR As’ad Syamsul Arifin itu begitu menyukai lagu-lagu ciptaan saang maestro dangdut tersebut. Lebih dari itu, Kiai Fawaid sering menjadi teman Rhoma dalam berdiskusi. Mulai masalah agama, sosial kemasyarakatan, politik, hingga musik sekalipun.


Meski demikian, harus diakui dalam setiap karya Rhoma Irama, Kiai Fawaid cukup mendapat perlakuan istimewa. Jika ada lagu-lagu terbaru Soneta Group (group dangdut Rhoma Irama), suami Nyai Hj Djuwairiyah itu selalu diberi duluan sebelum lagu itu beredar di pasaran. Biasanya, lagu itu oleh Kiai Fawaid di putar di stasiun radionya yang berada di Jalan Anggrek, Situbondo.

Lagu berjudul Syahdu yang digubah ke bahasa India, misalnya. Hingga saat ini, lagu hits dangdut itu belum beredar di pasaran. Namun pada Januari lalu, secara khusus Rhoma Irama sudah memberikannya secara gratis kepada Kiai Fawaid. “Wah, berarti saya orang yang pertama kali punya lagu ini,” ucap Kiai Fawaid kala itu.

Rhoma Irama hanya manggut-manggut sambil tersenyum. Lagu Syahdu yang digubah ke dalam bahasa India itu tentunya semakin menambah koleksi lagu Rhoma Irama yang dimiliki Kiai Fawaid. Bayangkan saja, Abah Nengsari ini mulai mengoleksi lagu Rhoma Irama sejak tahun 60-an. Mulai lagu Rhoma masih disalin dalam bentuk piringan hitam hingga kini yang berbentuk compact disc (CD)

Padahal, Rhoma Irama kebanyakan dikenal orang ketika sudah mendirikan Soneta Group. “Saat itu (tahun 60-an) Bang Haji masih merupakan penyanyi pop. Soneta kan baru dibentuk pada 1973. Saat Bang Haji baru masuk rekaman pun saya punya,” terang Kiai Fawaid.

Bahkan menurut Masykuri Ismail, Sekretaris DPC PPP Situbondo, Kiai Fawaid memiliki lagu Rhoma Irama yang Rhoma sendiri tidak ingat lagi pernah menyanyikannya. “Kiai (Fawaid) pernah membuat kejutan menyuruh saya menyanyikan lagu itu. Namun ternyata Rhoma tak pernah ingat kalau menyanyikan lagu itu,” terang orang dekat Kiai Fawaid itu.

Meski koleksi lagu Rhoma Irama sudah lengkap, kata Masykuri, Kiai Fawaid juga masih seringkali merekam penampilan Rhoma Irama saat live show di televisi. “Saat (kebiasaan merekam di televisi) itu diutarakan, Rhoma tidak marah. Katanya dia (Rhoma Irama) tidak berani memarahi apalagi (merekam di televisi bukan untuk kepentingan dibajak atau diperjualbelikan,” kisah Masykuri.

Kelengkapan koleksi lagu yang dimiliki Kiai Fawaid ini cukup membuat Rhoma Irama angkat topi terhadap Kiai Fawaid. Sebab itulah, saat akan meluncurkan website www.rajadangdut.com pada awal 2007 silam, Rhoma Irama memilih menghubungi Pengasuh Pesantren Salafiyah, Syafi’iyah Sukorejo tersebut.

Kala itu, Rhoma menyampaikan maksudnya untuk mendokumentasikan seluruh lagu yang dia ciptakan dan nyanyikan. Selain untuk kepentingan museum, lagu-lagu tersebut juga akan ditampilkan di website sang legenda musik dangdut itu. “Kebetulan saya merupakan salah satu kolektor lagu-lagunya,” ungkap Kiai Fawaid.

Dia mengakui, cukup banyak kolektor lagu Rhoma Irama. Termasuk di antaranya adalah dua orang berkebangsaan Amerika dan Jepang. Keduanya adalah William Ferederrick dan Nakata. “Namun koleksi yang dimiliki keduanya tidak selengkap saya. Mereka (William Ferederrick dan Nakata) baru mengoleksi lagu Rhoma Irama sejak pertengahan 70-an, sedangkan saya sejak tahun 60-an,” kata Kiai Fawaid yang kini memegang kendali di DPC PPP Situbondo itu.

Permintaan Rhoma Irama itu disanggupi Kiai Fawaid. Nah, inilah asal muasal kenapa pada peringatan 1 Muharam 1429 (10/02) lalu, Rhoma Irama bersedia memberikan salah satu gitar kesayangannya yang berbentuk ’SR’ kepada Kiai Fawaid untuk kemudian digunakan Group Hadrah Revolusioner Al Badar milik Pesantren Sukorejo. “Saya perintahkan khaddam (pembantu) saya untuk mendata, mengetik, mentranskip dan menyeleksi hingga mengklasifikasi lagu-lagu Rhoma,” terangnya.

Pada akhir 2007, apa yang menjadi permintaan Bang Haji itu sudah mampu diselesaikan oleh Kiai Fawaid. Dia pun menyerahkan kepada musisi yang ciptaan lagu-lagunya sudah hampir seribu lagu itu. Namun, kakak kandung KHR Kholil As’ad ini tak mau menyerahkan naskah maupun file-file itu gratisan. “Artinya harus ada maharnya,” imbuh Kiai Fawaid.

Bang Haji sempat menawari beberapa alat musik kepadanya. Namun, dia justru minta alat musik yang tidak pernah ditawarkan Rhoma. Yakni sebuah gitar unik Rhoma Irama berbetuk SR. Di dunia hanya gitar itulah satu-satunya yang berbentuk demikian. Sebab, alat musik petik itu merupakan pesanan khusus. “Tanpa dinyana-nyana Bang Haji ternyata merelakan gitar itu untuk dipakai Al Badar,” kata Kiai yang memimpin Pesantren Sukorejo sejak 1990 itu.

Apa yang membuat Kiai Fawaid begitu gandrung dengan lagu-lagu Rhoma Irama? Dia mengakui selera kepada musik tertentu adalah hal yang sangat subjektif bagi diri seseorang. Namun demikian, lanjut Kiai Fawaid, lagu Rhoma Irama memang benar-benar berbeda dengan lagu-lagu dangdut ataupun jenis musik lainnya. Sebab, lagu Rhoma Irama tidak hanya enak didengar.

“Lirik lagu Rhoma Irama begitu Islami, nasionalis, demokratis, dan sangat merakyat. Tema-tema lagunya sangat beragam. Ada asmara, kritik sosial, nasihat yang diselingi komedi dan kebanyakan adalah lagu-lagu dakwah,” ungkapnya

KH. Abdul Manan Muncar Banyuwangi Jawa Timur

Nama KH Abdul Manan adalah nama yang tidak asing lagi bagi kebanyakan penduduk di wilayah kab Banyuwangi-Jawa Timur, khususnya desa Sumberas Muncar Banyuwangi. Kiai ini dikenal sebagai kiai ”jadug” alias jago gelut melawan berandalan dan perampok pada waktu itu.

KH Abdul Manan merupakan putra kedua dari KH Moh Ilyas yang berasal dari Banten dan Umi Kultsum, yang berasal dari Jatirejo, Kandangan (Kediri). Lahir di desa Grampang, Kab Kediri pada tahun 1870. Saat berusia 1 tahun, ia dibawa KH Moh Ilyas pindah dari Grempol ke desa Ngadirejo Kecamatan Kandangan, Kab Kediri.
KH Moh Ilyas di Ngadirejo kemudian membuka pondok pesantren ala kadarnya. Selepas mendapat didikan dari sang ayahanda, KH Moh Ilyas, Abdul Manan juga “nyantri” ke beberapa pondok pesantren di Jawa Timur. Saat berusia sekitar 12 tahun ia masuk pondok pesantren Keling atau lebih masyhur dikenal Pondok Pesantren Ringin Agung yang diasuh oleh Mbah KH Nawawi. Sekalipun usianya masih kecil, ia mendapat didikan langsung dari Mbah Nawawi, sehingga saat ia menjadi santrinya ia banyak dikenal sebagai “santri pemberani”. Dimana hanya orang dewasa saja yang semestinya mengaji dengan Mbah Kyai Nawawi, namun ia sudah mengeyamnya sejak pertama kali masuk pesantren.
Lepas dari pondok pesantren Ringin Agung, ia kemudian melanjutkan ke pondok pesantren Gerompol yang tidak lain adalah pondok pesantren neneknya sendiri . Di pondok gerompol, ia banyak menimba ilmu hikmah dan ia dikenal sebagai jago gelut alias ahli jadug karena sering melawan kalangan berandalan dan perampok yang sering merajalela di daerah tersebut. Bahkan ia pernah berhadapan dengan lima puluh berandalan sekaligus dan ia melawan mereka dengan sendirian dan dari sekian banyak berandalan itu dapat dibrantasnya dengan mudah karena ia memang memeiliki jurus-jurus silat yang pernah ia pelajari di Pondok Pesantren Grompol.
Puas mempelajari ilmu hikmah dan silat di pondok Gerompol, ia kemudian melalaang buana keberbagai pondok pesantren untuk memperdalam ilmu-ilmu agama Islam. Dikalangan santri biasa disebut sebagai “santri kalong” karena mondoknya hanya sebentar saja. Beberapa pondok pesantren yang pernah dirambah oleh KH Abdul Manan diantaranya adalah Pondok Pesantren KH Abas di daerah Wlingi (Blitar), Pondok Pesantren Siwalan Panji (Sidoarjo), Pondok Pesantren Gayam (Jombang), Pondok Pensatren Tegalsari (Ponorogo) dan terakhir ia mondok dengan KH Kholil Al Bankalani (Bangkalan, Madura) atau yang biasa disapa dengan pangilan Mbah Cholil Bangkalan.
Lepas mendapat didikan dari Mbah Cholil ia kemudian melanjutkan belajar ke Mekkah dan belajar dengan ulama-ulama Indonesia yang ada di Mekah dan juga beberapa rubath yang ada di sana selama 9 tahun.
Sepulangnya dari tanah suci, KH Abdul Manan kembali ke daerah asalnya yakni desa Jatirejo, Kandangan, Kab Kediri untuk membantu orang tuanya menularkan ilmu-ilmu yang sudah didapatnya kepada santri-santri KH Moh Ilyas.
KH Abdul Manan menikah dengan seorang putri dari dusun Sumberbiru Puhrejo, Pare (Kediri) bahkan sampai membangun pondok kecil. Namun karena KH Abdul Manan tidak cocok dengan tempat itu, akhirnya ia furqoh (cerai) dengan istrinya dengan status belum punya putra dan ia akhirnya kembali ke Jatirejo , Kandangan (Kediri).
Di Jatirejo, rupanya ia tidak betah juga karena rasa ghirah (semangat) untuk berta’alum (mencari ilmu) masih sedemikian tinggi. Akhirnya ia kembali mondok ke pesantren Jalen Genteng (Banyuwangi) yang saat itu diasuh oleh KH Abdul Basyar. Karena usianya paling tua, di Pondok Jalen ia diangkat menjadi kepala pondok atau banyak orang bilang lurahnya Pondok. Tak selang beberaqpa lama kemudian, ia diambil menantu oleh KH Abdul Basyar dengan dinikahkan dengan salah satu putrinya yakni Siti Asmiyatun.
Pernikahan beliau dengan Siti Asmiyatun binti Abdul Basyar ia dikaruniai duabelas putra yakni Nyai Siti Robi’ah Askandar, Tabsyrul Anam, Ma’ariful Waro, Rofiqotuddarri, Nuryatun,Ma’rifatun, Khosyi’atun, Kamaludin, Abdul Malik Luqoni, Mutamimmah, Munawarroh dan Zubaidah.
Pada masa penjajahan Jepang, istrinya yakni Nyai Asmiyatun wafat. Ia kemudian menikah lagi dengan Hj Umtiyatun (Jalen) dan dari istri keduanya ia dikaruniai 9 putra-putri yakni Ny Asliyatun, Moh Soleh, KH Fahruddin, Moh Dalhar, Ny St Aisyah, Dewi, Dafi’ul Bala’, Ny Mariyati dan KH Toha Muntaha.
Tahun 1929 Ia pindah dari Jalen ke Berasan dan mendirikan pondok pesantren Minhajut Thullab. Sedangkan pondok pesantren Jalen diteruskan olehh adik iparnya yakni Nyai Mawardi.

Mulai membangun Pondok
Sebelum memilih daerah Berasan, ia sebelumnya berkeliling mulai dari Kalibaru, Silir, Pesanggrahan, Tamansari dan Berasan. Ternyata dari sekian tempat yang dijelajahi akhirnya terpilih daerah Berasan. Itu pun atas isyaroh dari KH Cholil Canggan Genteng, Banyuwangi agar memilih daerah Berasan menjadi sentral peantren yang akan ia rintis.
Awalnya, ia berangkat ke Berasan dengan tujuh teman santri dari Jalen dan bertemu dengan warga desa Badegan , Rogojampi (Banyuwangi) yang juga adalah pemilik tempat yang akan dijadikan lokasi pondok pesantren yakni H Sanusi. Pemilik tanah dan dan rumah di desa Berasan itu (H Sanusi-red) akhirnya mau menjual rumah dan tanahnya kepada KH Abdul Manan.
Tepat tahun 1932, KH Abdul Manan berserta keluarga dan diikuti oleh 12 santrinya, resmi boyongan dari Jalen menuju Berasan dan mulai membangun pondok pesantren. Awal berdiri pondok pesantren hanya berupa sebuah rumah dan musola kecil dan bangunan pondok bambu yang beratap daun alang-alang, sangat memprihationkan.
Semakin lama, santri mulai berdatangan dari berbagai daerah, bahkan mulai kerepotan menampung jumlah santri, sehingga ia menambah jumlah lokasi pondok dengan membeli sebagaian tanah penduduk setempat sekaligus membuat bangunan masjid dan bangunan kamar-kamar pondok pesantren yang permanen.

Masa penjajahan Jepang dan Kolonial
KH Abdul Manan terkenal sangat gigih melawan penjajah Jepang dan Belanda. Banyak kyai di Banyuwangi pada masa penjajahan Jepang dan Belanda yang menderita karena ditangkap oleh penjajah. Akan tetapi berkat lindungan Allah SWT, KH Abdul Manan dapat lolos dari tiap jeratan penjajah. Pada masa itu, beliau diungsikan oleh para santri dan masyarakat di rumah-rumah penduduk. Nasib nahas memang banyak menimpa Kyai-Kyai besar pada masa penjajahan yang berhasil ditangkap oleh penjajah seperti KH Manshur (Sidoresmo), Kyai Moh Ilyas, KH Askandar dan masih banyak lagi karena melawan penjajahan Kumpeni Belanda. Lepas dari penjajahan Belanda, dan Indonesia telah merdeka, ia tetap mengajar di pesantren.
Tepat tahun 1945 ia membangun sebuah gedung yang bisa menampung banyak jamaah untuk mengaji, yakni gedung “Jam’iyyah al Ishlah” atau populer dengan jam’iyyah gedong. Pada waktu itu, memang Pondok Pesantren Minhajut Thullab belum ada sistem pendidikan serupa dengan pendidikan sekolah-sekolah, yang ada hanya sistem pengajian-pengajian ala pesantren sepereti sorogan, bandongan , khitobah dll.
Baru pada tahun 1947 mulai dibuka sekolah bnermateri khusus pendidikan agama atau madrasah diniyah yang dibimbing oleh KH Suyuthi. Pada tahun 1951 dibuka sekolah setingkat Madrasah Ibtidaiyah yakni MI Miftahul Mubtadin. Baru pada tahun 1976 didirikan mulai dari tingkat kanak-kanak (TK Khodijah), MTs Miftahul Mubtadin dan SMA Al Hikmah.
KH Abdul Manan adalah sosok ulama yang soleh dan zuhud. Beliau mendidik putra putrinya di rumahnya dan kemudian anak-anaknya ia pondokan ke berbagai pesantren lain. Beliau dikenal sangat teliti dengan pendidikan anak-anaknya dan para santri bahkan juga masyarakat di mana bila sudah jam 20.00 mereka diwajibkan untuk istirahat (tidur). Beliau adalah seorang yang aktif dan disiplin dengan apapun tugas. Memang awalnya beliau mendidik dan memberi pengajian kepada putra-putranya, santri dan masyarakat sendirian, belum punya tenaga pengajar dari kalangan santri. Namun setelah santri-santri sudah mampu mengajar dan mengaji, mereka dianjurkan untuk memberikan pengajian kepada santri-santri di bawahnya.
Uniknya, para santri atau tenaga pengajar yang ada di pondok Minhajut Tulab tidak dibayar dengan uang. Namun mereka dijamin dan dicukupi dalam kebutuhan makan sehari-hari, ada yang makan di ndalemnya Mbah Kyai dan ada juga yang sebagian makan di rumahnya orang-orang desa yang diberi garapan berupa sawah atau kebun dari tanah KH Abdul Manan.
Keseharian beliau adalah seorang Kiai dan seorang petani. Sedang dibidang pertanian cukup dipercayakan kepada orang lain. Beliau juga dikenal sebagai pedagang yang sukses. Cara beliau memasarkan daganagannya, beliau cukup dirumah. Kalau ada orang yang ingin menjual barangnya mereka datang ke rumah Mbah KH Abadul Manan. Sedangkan kalau beliau menjualnya cukup dipasarkan oleh orang-orang yang dapat dipercaya.
Rotan bertuah
Setelah Indonesia merdeka,m justru ada peristiwa yang lebih kejam lagi yakni pemberontakan 30 September 1965 oleh Partai Komunis Indonesia (Gerakan 30 S PKI). Kekejaman dan komunis lebih kejam lagi, banyak kyai dan santri menjadi korban PKI. Melihat tindakan seperti itu, ia bersama santri dan penduduk tidak tinggal diam. KH Abdul Manan mengutus beberapa santri untuk mencari beberapa batang rotan (Kayu penjalin) dan dijadikan azimat untuk melawan PKI.
Rotan-rotan itu oleh KH Abdul Manan setelah didoakan dipergunakan oleh para santri dan masyarakat untuk melawan dan melumpuhkan orang-orang PKI yang masih sering berkeliaran di daerah Banyuwangi. Khasiat rotan itu juga bahkan dapat membakar rumah-rumah penduduk PKI cukup dengan memukulkannya. Tidak hanya rotan yang dapat di asma’ oleh KH Abdul Manan, banyak orang yang datang sambil membawa barang kesayangannya untuk didoakan oleh beliau, seperti cincin, sorban, peci dll.
Kelebihan dan kejadugan KH Abdul Manan bukanlah sesuatu yang didapat secara instan, tetapi buah dari riyadhah sejak ia berusia mua. Saat masih menimba ilmu di pondok pesantren ia sering melakukan puasa mutih, ngrowot. Saat belajar di Mekah selama 9 tahun ia juga berpuasa secara terus menerus, kecuali 2 hari yang diharamkan untuk tidak berpuasa yakni hari Idul Fitri dan hari Idhul Adha (2 hari Idul Adha). Bahkan tak jarang ia hanya berbuka hanya sebutir kurma dan minumnya juga hanya segelas air zam-zam.
Amalan-amalan yang ia lakukan dari usia muda sampai menjelang wafat lewat memperbanyak puasa semata-semata demi keberhasilan dan kebaikan beliau untuk memperihatini (laku prihatin) agar anak –anak dan santrinya kelak dapat menjadi orang yang berhasil serta berguna bagi masyarakat banyak. KH Abdul Manan wafat pada hari Jumat Kliwon menjelang Subuh 15 Syawal 1399 H (1979 M) dan di makamkan masih di sekitar pondok pesantren Minhajut Thulab, Sumberberas, Muncar, Banyuwangi (Jawa Timur).

Kisah Karomah Mbah Ma’shum Lasem

Mbah Ma’shum Lasem, Jawa Tengah, adalah ulama besar yang tindakannya sering sulit dicerna nalar awam. Setelah peristiwanya, barulah orang mengerti apa sesungguhnya yang terjadi.

Diperkirakan, Mbah Ma’shum lahir pada tahun 1868. Dia adalah anak bungsu pasangan Ahmad dan Qosimah. Oleh orangtuanya dia kemudian diserahkan kepada Kiai Nawawi, Jepara, untuk mempelajari ilmu agama, karena sejak kecil diatelah ditinggal wafat oleh ibunya. Dari Kiai Nawai dia mendapat pelajaran dasar ilmu alat (nahwu) yang diambil dari kitab Jurumiyyah dan Imrithi.

Pengembaraannya mencari ilmu tidak sebatas di Lasem, melainkan sampai ke Jepara, Kajen (Kiai Abdullah, Kiai Abdul Salam, dan Kiai Siroj), Kudus (Kiai Ma’shum dan Kiai Syarofudin), Sarang Rembang (Kiai Umar Harun), Solo (Kiai Idris), Termas (Kiai Dimyati), Semarang (Kiai Ridhwan), Jombang (Kiai Hasyim Asy’ari), Bangkalan (Kiai Kholil), hingga Makkah (Kiai Mahfudz At-Turmusi), dan kota-kota lain.

Suatu saat, di Semarang, dia tertidur dan bermimpi bertemu Nabi Muhammad SAW. Ketika di Bojonegoro, dia tidak hanya bermimpi, melainkan, antara tertidur dan terjaga, dia bertemu dengan Nabi, yang memberikan ungkapan La khayra ilia fi nasyr al-ilmi, yang artinya “Tidak ada kebaikan (yang lebih utama) daripada menyebarkan ilmu”.

Di rumahnya sendiri, dia bermimpi kembali. Dalam mimpinya, ia bersalaman dengan Nabi Muhammad SAW, yang berpesan, “Mengajarlah, segala kebutuhanmu insya Allah akan dipenuhi semuanya oleh Allah.”

Di kemudian hari, Mbah Ma’shum menjadi ulama besar yang dikenal memiliki banyak karamah. Inilah beberapa kisah karamahnya:

Walisanga Bertamu

Ada satu kisah karamah lain yang menunjukkan ketinggian kedudukan spiritualnya. Hari itu datang sembilan orang tamu ke Lasem. Mereka ingin berjumpa dengan Mbah Ma’shum.

Namun, karena tuan rumah sedang tidur, Ahmad, seorang santrinya, menawarkan apa perlu Mbah Ma’shum dibangunkan. Ternyata mereka menolak.

Lalu mereka semua, yang tadinya sudah duduk melingkar di ruang tamu, berdiri sambil membaca shalawat, kemudian berpamitan.

“Apa perlu Mbah Ma’shum dibangunkan?” tanya Ahmad sekali lagi.

“Tidak usah,” ujar me­reka serempak lalu pergi.

Rupanya saat itu Mbah Ma’shum mendusin dan bertanya kepada Ahmad perihal apa yang baru saja terjadi.

Setelah mendapat penjelasan, Mbah Ma’shum minta kepada Ahmad agar mengejar tamu-tamunya.

Tapi apa lacur, mereka sudah menghilang, padahal mereka diperkirakan baru sekitar 50 meter dari rumah Mbah Ma’shum.

Ketika Ahmad akan melaporkan hal tersebut, Mbah Ma’shum, yang sudah bangun tapi masih dalam posisi tiduran, mengatakan bahwa tamu-tamunya itu adalah Walisanga dan yang berbicara tadi adalah Sunan Ampel.

Setelah mengucapkan kalimat terse­but, Mbah Ma’shum tertidur pulas lagi.

Beras Melimpah

Di depan para cucunya, Mbah Ma’shum memimpin pembacaan istighatsah dan membaca potongan syair Al-Burdah yang artinya, “Wahai makhluk paling mulia (Muhammad), aku tak ada tempat untuk mencari perlindungan kecuali kepadamu, pada kejadian malapetaka nan besar nanti.”

Syair tersebut dibaca 80 kali, dilanjutkan dengan doa sebagai berikut: “Ya Allah, orang-orang yang ada dalam tanggungan kami sangat banyak, tetapi beras yang ada pada kami telah habis. Untuk itu kami mohon rizqi dari-Mu.”

Selain mengamini, Nadhiroh, salah seorang cucunya, berteriak, “Mbah, tambahi satu ton.”

Ditimpali oleh Mbah Ma’shum, “Tidak satu ton, tepi lebih….”

Beberapa hari kemudian, beras seolah mengalir dari tamu-tamu yang datang dari berbagai kota, seperti Pemalang dan Pasuruan, ke tempat Mbah Ma’shum.

Masih soal beras. Pada kali yang lain, setelah mengajar 12 santrinya lalu diikuti dengan membaca Alfiyah, Mbah Ma’shum minta mereka mengamini doanya, karena persediaan beras sudah habis.

“Ya Allah, Gusti, saya minta beras….”

“Amin…,” ke-12 santri itu, yang ditampung dan ditanggung di rumah Mbah Ma’shum, khidmat menyambung doanya.

Jam sebelas siang, datang sebuah becak membawa beberapa karung be­ras. Tanpa pengantar, kecuali alamat ditempel di karung-karung beras itu. Di sana tertera jelas, kotanya adalah Banyuwangi.

Kepada santrinya yang bernama Abrori Akhwan, Mbah Ma’shum minta agar mencatat alamat yang tertera di karung itu.

Suatu saat ketika berkunjung ke Banyuwangi, Mbah Ma’shum bermaksud mampir ke alamat itu. Saat alamat tersebut ditemukan, tempat itu ternyata kebun pisang yang jauh di pedalaman. Ironisnya, masyarakat di sana hampir- hampir tak ada yang kelebihan rizqi. Lalu siapa yang mengirim beras?

“DuaTahun Lagi Saya Menyusul”

“Seandainya Paman wafat pada hari ini, saya akan menyusui dua tahun kemudian,” demikian reaksi Mbah Ma’shum ketika mendengar kabar bahwa pamannya, Kiai Baidhowi, meninggal hari itu, 11 Desember 1970.

Bahkan ucapan itu ditegaskan sekali lagi langsung di telinga almarhum ketika dia menghadiri pemakamannya, “Ya, Paman, dua tahun lagi saya akan menyusui.”

Mbah Ma’shum tutup usia pada 28 Oktober 1972 atau 12 Ramadhan 1332, sepulang dari shalat Jum’at di masjid jami’ Lasem, tak jauh dari rumahnya.

Persis seperti ucapannya, menyusui dua tahun setelah pamandanya wafat.

Mengajar atau Menolong Orang juga “Dzikir”

Kisah lain, sambil memijit badan Mbah Ma’shum, Abrori Akhwan, yang kala itu, awal dekade 1960-an, masih menjadi santri di pesantren Mbah Ma’shum, Al-Hidayat, dalam benaknya terlintas pertanyaan, kenapa Mbah Ma’shum tak pernah menggunakan peci haji atau sorban bila keluar rumah, tidak pernah berdzikir dalam waktu yang lama, dan tidak banyak kitab kuning di rumahnya.

Pikiran itu rupanya terbaca oleh Mbah Ma’shum. Tak lama kemudian, ia berujar, “Seorang kiai tidak harus meng­gunakan peci haji atau sorban. ‘Berdzikir’ kepada Allah bisa dilakukan langsung secara praktek, seperti misalnya kita mengajar atau menolong orang, tidak harus dalam waktu lama dengan bebe­rapa bacaan tertentu. Kitab kuning sebenarnya banyak, tapi dipinjam oleh Ali, anak sulungku.”

Insya Allah akan Kembali

Ketika dalam perjalanan silaturahim ke Jawa Tengah dan Jawa Timur, Mbah Ma’shum kehilangan kacamata di kereta api yang tengah meluncur, antara Tegal dan Pekalongan. Menyadari hal itu, ia kemudian mengajak para pengikutnya membaca surah Adh-Dhuha. Dan ketika sampai ayat wawajadaka dhaallam fahada, ayat tersebut dibaca delapan kali.

“Dengan membaca surah tersebut, insya Allah barang kita yang hilang akan kembali. Setidaknya Allah akan memberikan ganti yang sesuai,” katanya kemudian.

Ketika rombongan mampir ke rumah Kiai Faturrahman di Kebumen, Mbah Ma’shum melihat sebuah kacamata di lemari kaca tuan rumah, persis miliknya yang hilang. Dengan spontan ia berkata, “Alhamdulillah.”

Kepada Faturrahman, ia bertanya, “Apa ini kacamata saya?”

Dijawab Kiai Faturrahman dengan terbata-bata, “Ya mungkin saja, Mbah….”

Kemudian kacamata itu diambil dan dipakai oleh Mbah Ma’shum.

Kendaraan Soal Belakang

Kali ini soal dokar. Santri yang mengawal Mbah Ma’shum kebingungan. Se­telah maghrib, sudah menjadi kebiasaan, dokar di daerah Batang, Pekalongan, tidak akan ada yang berani keluar ke­cuali kalau dicarter. Namun Mbah Ma’shum berkata, “Shalat dulu, kendaraan soal belakang.”

Ketika itu rombongan Mbah Ma’shum sudah sampai di sebuah mushalla. Maka shalatlah mereka secara berjama’ah. Bahkan dilanjutkan hingga shalat Isya.

Setelah semua selesai, rombongan pun melanjutkan perjalanan. Dan, tanpa diduga, begitu rombongan keluar dari halaman mushalla, lewatlah sebuah do­kar kosong. Mereka pun menaikinya. Subhanallah,…

(Disadur dari Majalah Alkisah No. 26/Tahun VII)

Senin, 13 April 2015

PENGUMUMAN BEASISWA PRESTASI JENJANG SARJANA DI UNIVERSITAS JEPANG BAGI LULUSAN MADRASAH 2015

Kepada Yth.
Kepala MAN dan MAS
Se Kabupaten Banyuwangi

Berikut kami lampirkan pengumuman Beasiswa Prestasi jenjang sarjana di Universitas Jepang dan Tempat Seleksi
Untuk Pengumuman bisa di download disini
dan untuk tempat seleksi bisa di download disini
Demikian dan terima kasih

Minggu, 12 April 2015

Info Pendidikan


 
PENERIMAAN SANTRI DAN MURID BARU
Pondok Pesantren ”NURUL AMIN”  terletak di Lingkungan Secang Kelurahan Kalipuro Kecamatan Kalipuro Kabupaten Banyuwangi. Semenjak berdiri pada tahun 1973, Pondok Pesantren ”NURUL AMIN” diasuh oleh  KH. MAHMUD RIFA’I, dan dibantu  oleh Putranya  KHM. HUSAINI HAFIDH NASRULLAH, S. Pd.I,
Semenjak berdiri (tahun 1973), sudah banyak santri yang pernah ”mondok” di Pondok Pesantren  ”NURUL AMIN” ini. Mereka berasal dari berbagai daerah baik dalam kota Banyuwangi sampai dengan luar kota dan propinsi, seperti ; Jember, Situbondo, Madura bahkan Bali.
Unit dan Kegiatan Pondok Pesantren/Yayasan Pondok Pesantren ”NURUL AMIN”.
A. Pendidikan Non Formal :
  1. TPQ. NURUL AMIN.
  2. Madrasah Diniyah (Madin) NURUL AMIN.
  3. Pengajian Bandongan Kitab Kuning & Pengajian Sorogan
  4. Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an  ( LPTQ ). ( Tahsinul Qiro’ah ).
B. Pendidikan Formal :
  1. Raudlatul Athfal (RA). IBRAHIMY,                      berdiri Tahun 1992, Terdaftar
  2. Madrasah Ibtidaiyah (MI). IBRAHIMY,             berdiri tahun 1983, Terakreditasi B
  3. Madrasah Tsanawiyah (MTs). IBRAHIMY,        berdiri tahun 1991, Terakreditasi B.
  4. Madrasah Aliyah (MA). IBRAHIMY,                    berdiri tahun 2005, Terakreditasi C.

C. V I S I :

Lahirnya Insan yang Beriman Dan Bertaqwa, Berakhlaqul Karimah, Berilmu dan Beramal Sholeh yang Berhaluan Ahlusunnaha Wal Jam'ah “

D. Penerimaan Santri Baru
Dalam rangka memasuki Tahun Pelajaran 2015/2016 Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Nurul Amin Secang Kalipuro Banyuwangi menerima pendaftaran Santri baru dengan ketentuan sebagai berikut :
  • Prosedur Penerimaan Santri Baru :
  1. Calon Santri harus Sehat Jasmani dan Rohani.
  2. Calon Santri diserahkan kepada Pengasuh oleh Walinya atau Orang Tuanya sendiri.
  3. Membayar  biaya uang Almari Asrama  Rp. 50.000,-
  4. Membayar Uang Tahunan Pesantren (UTAP)   Rp. 100.000,-
  5. Menempati asrama/kamar yang ditentukan oleh Pengasuh.
  • Waktu dan Tempat Pendaftaran :
  1. Pendaftaran dibuka sejak surat/ brosur ini beredar.
  2. Tempat pendaftaran di :
–          Pondok Pesantren Nurul Amin Secang Kalipuro Banyuwangi
  • Syarat Dan Ketentuan Santri Baru :
  1. Siap dan sanggup mematuhi peraturan Pondok Pesantren.
  2. Wajib mengikuti segala jenis/bentuk pengajian dan selalu mengikuti shalat berjamaah.
E. Syarat-syarat Pendaftaran Pendidikan Formal :
A.    Raudlatul Athfal ( RA ).
  1. Didaftarkan oleh Orang tua / Walinya.
  2. Menyerahkan Foto Copy Akte kelahiran.
  3. Membayar biaya pendaftaran sebesar  Rp. 20.000,-
B.    Madrasah Ibtidaiyah ( MI )
  1. Didaftarkan oleh Orang tua / Walinya.
  2. Menyerahkan Foto Copy Ijazah/STTB RA/TK yang telah dilegalisir sebanyak 3 lembar
  3. Menyerahkan foto hitam putih 3×4 ( 3 lembar )
  4. Gratis biaya pendaftaran
C.   Madrasah Tsanawiyah ( MTs ).
  1. Didaftarkan oleh Orang tua / Walinya.
  2. Menyerahkan Foto Copy Ijazah/STTB SD/MI yang telah dilegalisir sebanyak  3 lembar
  3. Menyerahkan foto hitam putih 3×4 ( 3 lembar)
  4. Gratis biaya pendaftaran
D.   Madrasah Aliyah ( MA ).
  1. Didaftarkan oleh Orang tua / Walinya.
  2. Menyerahkan Foto Copy Ijazah/STTB SMP/MTs. yang telah dilegalisr sebanyak 3 lembar
  3. Menyerahkan foto hitam putih 3×4 ( 3 lembar )
  4. Gratis biaya pendaftaran
  • Keterangan lain yang kurang jelas dapat ditanyakan ditempat pendaftran.

Banyuwangi, 13 April 2015
Sekretaris Yasasan
MISRANTO, S.Pd