Tutorial Cara Membuat Menu Di Blog Dengan Mudah Jika semua kode sudah dimasukkan klik Simpan. Sampai tahap ini blog sobat sudah memiliki menu horizontal, namun saya yakin sobat ingin menu-menu tersebut sesuai keinginan. Jika demikian, mari kita lanjutkan edit menu horizontal tersebut. Cara edit menu-menu yang ada di blog Pada kode css dan html yang sobat masukkan tadi ada kode

Jumat, 07 Agustus 2015

INFO PENTING TERKAIT EMIS

Mohon perhatian…Tolong Dibaca dulu..! Batas Akhir Regestrasi RA MI MTS MA/ NEGERI/SWASTA TGL 10 AGUSTUS 2015
Mengingatkan kembali Surat Dirjen Pendis No. Dj.I/Set.I/PP.00.11/2049/2015 tanggal 2 Juli 2015
dan Surat tindak lanjut Kanwil no. Kw.15.2/PP.00/3674/2015 tanggal 7 Juli 2015 perihal Pengantar Pemutakhiran Data EMIS,
maka bersama ini kami berikan langkah-langkah yang harus dikerjakan Operator EMIS Lembaga :
a. Lembaga dengan Pengawasan Pendma Kab/Kota mengerjakan Excel EMIS dan dapat di download di http://pendis.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id2=form1516ganjil#
Bagi Lembaga dengan NSM yg terdaftar di Verval NSM diwajibkan segera registrasi
c. CARA CARA PENDAFTARAN ADMIN EMIS LEMBAGA
1. Kunjungi http:http://emispendis.kemenag.go.id/emis_sdm/index.php
2. Klik daftar
3. Isi kolom yang tersedia
4. untuk tanggal lahir formatnya dd/mm/yyyy
5. Klik selanjutnya
6. Isi alamat rumah
7. Klik selanjutnya
8. isi profil operator
9. Pengisian NSM Jangan Sampai Salah Sesuai NSM Masing Masing
10.Surat tugas atau Surat Keputusan (jadikan 1 lembar) yang diupload adalah dengan format pdf ukuran harus kurang dari 200 kb Contoh Surat Tugas :Surat Tugas Emis Compress
10. Klik Simpan
11. Tunggu persetujuan dari operator pendma Kab/Kota
d. CARA MUDAH DISEMUA KOMPUTER BISA, TANPA APLIKASI :
1. Surat tugas atau Surat Keputusan (jadikan 1 lembar) discan sperti biasa
2. Tampilkan hasil scan dizoom, di paskan atas bawah pres terlihat dan bisa dibaca (pastikan semua tercakup)
3. Tekan printscreen
4. Buka “PAINT” (aplikasi standar windows)
5. pastekan
6. Tata dan rapikan
7. Save dg format .png
8. Buka WORD
9. insert picture
10. Save pdf
11. Cek ukuran. Hasilnya pasti kurang dari 200 kb…tks
e. CARA KOMPRES ONLINE :
1. Pilih salah satu web kompres di internet (misal : http://smallpdf.com/id/mengompres-pdf )
2. Pilih file
3. Klik kompres
4. Pastikan ukurannya kurang dari 200 kb
5. Upload.

Bagi Satuan Pendidikan (RA,MI,MTs dan MA Negeri dan Sawsta ) dan Pengawas Madrasah yang tidak melakukan pemutakhiran data EMIS, tidak akan diakui keberadaannya oleh Kementerian Agama R.I. dan secara otomatis tidak berhak untuk mendapatkan layanan dalam bentuk apapun dari Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (termasuk Peserta Didik, Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang ada didalamnya).

Kasi Pendidikan Madrasah
Kabupaten Banyuwangi

Dra .HJ.Suciningsih,M.Pd.i
Nip.196308021986032004

Jumat, 17 April 2015

Sisi Lain Alm. KHR. Ach. Fawaid As'sd

Kiai Fawaid, Kolektor Terlengkap Lagu Rhoma Irama

Di sela kesibukannya sebagai pengasuh pesantren, KHR Ahmad Fawaid As’ad Syamsul Arifin ternyata punya hobi yang cukup langka. Kiai dengan ribuan santri itu masih menyempatkan diri mengoleksi lagu-lagu karya Rhoma Irama. Saking banyaknya lagu yang dikoleksi, sampai-sampai Bang Haji (panggilan akrab Rhoma Irama) menyebut Kiai Fawaid sebagai kolektor lagu-lagunya terlengkap se-dunia.
Hubungan Bang Haji dengan Kiai Fawaid memang sangat dekat. Kalau kebetulan tengah ada acara di wilayah tapal kuda, Bang Haji selalu menyempatkan diri bersilaturahmi ke kediaman Kiai Fawaid di Ponpes Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Kecamatan Banyuputih, Situbondo.

Bahkan tak jarang, Kiai Fawaid malah ikut mendampingi perjalanan Rhoma Irama selama berada di daerah tapal kuda. Kedekatan Bang Haji dengan Kiai Fawaid bukan semata-mata karena putra (alm) KHR As’ad Syamsul Arifin itu begitu menyukai lagu-lagu ciptaan saang maestro dangdut tersebut. Lebih dari itu, Kiai Fawaid sering menjadi teman Rhoma dalam berdiskusi. Mulai masalah agama, sosial kemasyarakatan, politik, hingga musik sekalipun.


Meski demikian, harus diakui dalam setiap karya Rhoma Irama, Kiai Fawaid cukup mendapat perlakuan istimewa. Jika ada lagu-lagu terbaru Soneta Group (group dangdut Rhoma Irama), suami Nyai Hj Djuwairiyah itu selalu diberi duluan sebelum lagu itu beredar di pasaran. Biasanya, lagu itu oleh Kiai Fawaid di putar di stasiun radionya yang berada di Jalan Anggrek, Situbondo.

Lagu berjudul Syahdu yang digubah ke bahasa India, misalnya. Hingga saat ini, lagu hits dangdut itu belum beredar di pasaran. Namun pada Januari lalu, secara khusus Rhoma Irama sudah memberikannya secara gratis kepada Kiai Fawaid. “Wah, berarti saya orang yang pertama kali punya lagu ini,” ucap Kiai Fawaid kala itu.

Rhoma Irama hanya manggut-manggut sambil tersenyum. Lagu Syahdu yang digubah ke dalam bahasa India itu tentunya semakin menambah koleksi lagu Rhoma Irama yang dimiliki Kiai Fawaid. Bayangkan saja, Abah Nengsari ini mulai mengoleksi lagu Rhoma Irama sejak tahun 60-an. Mulai lagu Rhoma masih disalin dalam bentuk piringan hitam hingga kini yang berbentuk compact disc (CD)

Padahal, Rhoma Irama kebanyakan dikenal orang ketika sudah mendirikan Soneta Group. “Saat itu (tahun 60-an) Bang Haji masih merupakan penyanyi pop. Soneta kan baru dibentuk pada 1973. Saat Bang Haji baru masuk rekaman pun saya punya,” terang Kiai Fawaid.

Bahkan menurut Masykuri Ismail, Sekretaris DPC PPP Situbondo, Kiai Fawaid memiliki lagu Rhoma Irama yang Rhoma sendiri tidak ingat lagi pernah menyanyikannya. “Kiai (Fawaid) pernah membuat kejutan menyuruh saya menyanyikan lagu itu. Namun ternyata Rhoma tak pernah ingat kalau menyanyikan lagu itu,” terang orang dekat Kiai Fawaid itu.

Meski koleksi lagu Rhoma Irama sudah lengkap, kata Masykuri, Kiai Fawaid juga masih seringkali merekam penampilan Rhoma Irama saat live show di televisi. “Saat (kebiasaan merekam di televisi) itu diutarakan, Rhoma tidak marah. Katanya dia (Rhoma Irama) tidak berani memarahi apalagi (merekam di televisi bukan untuk kepentingan dibajak atau diperjualbelikan,” kisah Masykuri.

Kelengkapan koleksi lagu yang dimiliki Kiai Fawaid ini cukup membuat Rhoma Irama angkat topi terhadap Kiai Fawaid. Sebab itulah, saat akan meluncurkan website www.rajadangdut.com pada awal 2007 silam, Rhoma Irama memilih menghubungi Pengasuh Pesantren Salafiyah, Syafi’iyah Sukorejo tersebut.

Kala itu, Rhoma menyampaikan maksudnya untuk mendokumentasikan seluruh lagu yang dia ciptakan dan nyanyikan. Selain untuk kepentingan museum, lagu-lagu tersebut juga akan ditampilkan di website sang legenda musik dangdut itu. “Kebetulan saya merupakan salah satu kolektor lagu-lagunya,” ungkap Kiai Fawaid.

Dia mengakui, cukup banyak kolektor lagu Rhoma Irama. Termasuk di antaranya adalah dua orang berkebangsaan Amerika dan Jepang. Keduanya adalah William Ferederrick dan Nakata. “Namun koleksi yang dimiliki keduanya tidak selengkap saya. Mereka (William Ferederrick dan Nakata) baru mengoleksi lagu Rhoma Irama sejak pertengahan 70-an, sedangkan saya sejak tahun 60-an,” kata Kiai Fawaid yang kini memegang kendali di DPC PPP Situbondo itu.

Permintaan Rhoma Irama itu disanggupi Kiai Fawaid. Nah, inilah asal muasal kenapa pada peringatan 1 Muharam 1429 (10/02) lalu, Rhoma Irama bersedia memberikan salah satu gitar kesayangannya yang berbentuk ’SR’ kepada Kiai Fawaid untuk kemudian digunakan Group Hadrah Revolusioner Al Badar milik Pesantren Sukorejo. “Saya perintahkan khaddam (pembantu) saya untuk mendata, mengetik, mentranskip dan menyeleksi hingga mengklasifikasi lagu-lagu Rhoma,” terangnya.

Pada akhir 2007, apa yang menjadi permintaan Bang Haji itu sudah mampu diselesaikan oleh Kiai Fawaid. Dia pun menyerahkan kepada musisi yang ciptaan lagu-lagunya sudah hampir seribu lagu itu. Namun, kakak kandung KHR Kholil As’ad ini tak mau menyerahkan naskah maupun file-file itu gratisan. “Artinya harus ada maharnya,” imbuh Kiai Fawaid.

Bang Haji sempat menawari beberapa alat musik kepadanya. Namun, dia justru minta alat musik yang tidak pernah ditawarkan Rhoma. Yakni sebuah gitar unik Rhoma Irama berbetuk SR. Di dunia hanya gitar itulah satu-satunya yang berbentuk demikian. Sebab, alat musik petik itu merupakan pesanan khusus. “Tanpa dinyana-nyana Bang Haji ternyata merelakan gitar itu untuk dipakai Al Badar,” kata Kiai yang memimpin Pesantren Sukorejo sejak 1990 itu.

Apa yang membuat Kiai Fawaid begitu gandrung dengan lagu-lagu Rhoma Irama? Dia mengakui selera kepada musik tertentu adalah hal yang sangat subjektif bagi diri seseorang. Namun demikian, lanjut Kiai Fawaid, lagu Rhoma Irama memang benar-benar berbeda dengan lagu-lagu dangdut ataupun jenis musik lainnya. Sebab, lagu Rhoma Irama tidak hanya enak didengar.

“Lirik lagu Rhoma Irama begitu Islami, nasionalis, demokratis, dan sangat merakyat. Tema-tema lagunya sangat beragam. Ada asmara, kritik sosial, nasihat yang diselingi komedi dan kebanyakan adalah lagu-lagu dakwah,” ungkapnya

KH. Abdul Manan Muncar Banyuwangi Jawa Timur

Nama KH Abdul Manan adalah nama yang tidak asing lagi bagi kebanyakan penduduk di wilayah kab Banyuwangi-Jawa Timur, khususnya desa Sumberas Muncar Banyuwangi. Kiai ini dikenal sebagai kiai ”jadug” alias jago gelut melawan berandalan dan perampok pada waktu itu.

KH Abdul Manan merupakan putra kedua dari KH Moh Ilyas yang berasal dari Banten dan Umi Kultsum, yang berasal dari Jatirejo, Kandangan (Kediri). Lahir di desa Grampang, Kab Kediri pada tahun 1870. Saat berusia 1 tahun, ia dibawa KH Moh Ilyas pindah dari Grempol ke desa Ngadirejo Kecamatan Kandangan, Kab Kediri.
KH Moh Ilyas di Ngadirejo kemudian membuka pondok pesantren ala kadarnya. Selepas mendapat didikan dari sang ayahanda, KH Moh Ilyas, Abdul Manan juga “nyantri” ke beberapa pondok pesantren di Jawa Timur. Saat berusia sekitar 12 tahun ia masuk pondok pesantren Keling atau lebih masyhur dikenal Pondok Pesantren Ringin Agung yang diasuh oleh Mbah KH Nawawi. Sekalipun usianya masih kecil, ia mendapat didikan langsung dari Mbah Nawawi, sehingga saat ia menjadi santrinya ia banyak dikenal sebagai “santri pemberani”. Dimana hanya orang dewasa saja yang semestinya mengaji dengan Mbah Kyai Nawawi, namun ia sudah mengeyamnya sejak pertama kali masuk pesantren.
Lepas dari pondok pesantren Ringin Agung, ia kemudian melanjutkan ke pondok pesantren Gerompol yang tidak lain adalah pondok pesantren neneknya sendiri . Di pondok gerompol, ia banyak menimba ilmu hikmah dan ia dikenal sebagai jago gelut alias ahli jadug karena sering melawan kalangan berandalan dan perampok yang sering merajalela di daerah tersebut. Bahkan ia pernah berhadapan dengan lima puluh berandalan sekaligus dan ia melawan mereka dengan sendirian dan dari sekian banyak berandalan itu dapat dibrantasnya dengan mudah karena ia memang memeiliki jurus-jurus silat yang pernah ia pelajari di Pondok Pesantren Grompol.
Puas mempelajari ilmu hikmah dan silat di pondok Gerompol, ia kemudian melalaang buana keberbagai pondok pesantren untuk memperdalam ilmu-ilmu agama Islam. Dikalangan santri biasa disebut sebagai “santri kalong” karena mondoknya hanya sebentar saja. Beberapa pondok pesantren yang pernah dirambah oleh KH Abdul Manan diantaranya adalah Pondok Pesantren KH Abas di daerah Wlingi (Blitar), Pondok Pesantren Siwalan Panji (Sidoarjo), Pondok Pesantren Gayam (Jombang), Pondok Pensatren Tegalsari (Ponorogo) dan terakhir ia mondok dengan KH Kholil Al Bankalani (Bangkalan, Madura) atau yang biasa disapa dengan pangilan Mbah Cholil Bangkalan.
Lepas mendapat didikan dari Mbah Cholil ia kemudian melanjutkan belajar ke Mekkah dan belajar dengan ulama-ulama Indonesia yang ada di Mekah dan juga beberapa rubath yang ada di sana selama 9 tahun.
Sepulangnya dari tanah suci, KH Abdul Manan kembali ke daerah asalnya yakni desa Jatirejo, Kandangan, Kab Kediri untuk membantu orang tuanya menularkan ilmu-ilmu yang sudah didapatnya kepada santri-santri KH Moh Ilyas.
KH Abdul Manan menikah dengan seorang putri dari dusun Sumberbiru Puhrejo, Pare (Kediri) bahkan sampai membangun pondok kecil. Namun karena KH Abdul Manan tidak cocok dengan tempat itu, akhirnya ia furqoh (cerai) dengan istrinya dengan status belum punya putra dan ia akhirnya kembali ke Jatirejo , Kandangan (Kediri).
Di Jatirejo, rupanya ia tidak betah juga karena rasa ghirah (semangat) untuk berta’alum (mencari ilmu) masih sedemikian tinggi. Akhirnya ia kembali mondok ke pesantren Jalen Genteng (Banyuwangi) yang saat itu diasuh oleh KH Abdul Basyar. Karena usianya paling tua, di Pondok Jalen ia diangkat menjadi kepala pondok atau banyak orang bilang lurahnya Pondok. Tak selang beberaqpa lama kemudian, ia diambil menantu oleh KH Abdul Basyar dengan dinikahkan dengan salah satu putrinya yakni Siti Asmiyatun.
Pernikahan beliau dengan Siti Asmiyatun binti Abdul Basyar ia dikaruniai duabelas putra yakni Nyai Siti Robi’ah Askandar, Tabsyrul Anam, Ma’ariful Waro, Rofiqotuddarri, Nuryatun,Ma’rifatun, Khosyi’atun, Kamaludin, Abdul Malik Luqoni, Mutamimmah, Munawarroh dan Zubaidah.
Pada masa penjajahan Jepang, istrinya yakni Nyai Asmiyatun wafat. Ia kemudian menikah lagi dengan Hj Umtiyatun (Jalen) dan dari istri keduanya ia dikaruniai 9 putra-putri yakni Ny Asliyatun, Moh Soleh, KH Fahruddin, Moh Dalhar, Ny St Aisyah, Dewi, Dafi’ul Bala’, Ny Mariyati dan KH Toha Muntaha.
Tahun 1929 Ia pindah dari Jalen ke Berasan dan mendirikan pondok pesantren Minhajut Thullab. Sedangkan pondok pesantren Jalen diteruskan olehh adik iparnya yakni Nyai Mawardi.

Mulai membangun Pondok
Sebelum memilih daerah Berasan, ia sebelumnya berkeliling mulai dari Kalibaru, Silir, Pesanggrahan, Tamansari dan Berasan. Ternyata dari sekian tempat yang dijelajahi akhirnya terpilih daerah Berasan. Itu pun atas isyaroh dari KH Cholil Canggan Genteng, Banyuwangi agar memilih daerah Berasan menjadi sentral peantren yang akan ia rintis.
Awalnya, ia berangkat ke Berasan dengan tujuh teman santri dari Jalen dan bertemu dengan warga desa Badegan , Rogojampi (Banyuwangi) yang juga adalah pemilik tempat yang akan dijadikan lokasi pondok pesantren yakni H Sanusi. Pemilik tanah dan dan rumah di desa Berasan itu (H Sanusi-red) akhirnya mau menjual rumah dan tanahnya kepada KH Abdul Manan.
Tepat tahun 1932, KH Abdul Manan berserta keluarga dan diikuti oleh 12 santrinya, resmi boyongan dari Jalen menuju Berasan dan mulai membangun pondok pesantren. Awal berdiri pondok pesantren hanya berupa sebuah rumah dan musola kecil dan bangunan pondok bambu yang beratap daun alang-alang, sangat memprihationkan.
Semakin lama, santri mulai berdatangan dari berbagai daerah, bahkan mulai kerepotan menampung jumlah santri, sehingga ia menambah jumlah lokasi pondok dengan membeli sebagaian tanah penduduk setempat sekaligus membuat bangunan masjid dan bangunan kamar-kamar pondok pesantren yang permanen.

Masa penjajahan Jepang dan Kolonial
KH Abdul Manan terkenal sangat gigih melawan penjajah Jepang dan Belanda. Banyak kyai di Banyuwangi pada masa penjajahan Jepang dan Belanda yang menderita karena ditangkap oleh penjajah. Akan tetapi berkat lindungan Allah SWT, KH Abdul Manan dapat lolos dari tiap jeratan penjajah. Pada masa itu, beliau diungsikan oleh para santri dan masyarakat di rumah-rumah penduduk. Nasib nahas memang banyak menimpa Kyai-Kyai besar pada masa penjajahan yang berhasil ditangkap oleh penjajah seperti KH Manshur (Sidoresmo), Kyai Moh Ilyas, KH Askandar dan masih banyak lagi karena melawan penjajahan Kumpeni Belanda. Lepas dari penjajahan Belanda, dan Indonesia telah merdeka, ia tetap mengajar di pesantren.
Tepat tahun 1945 ia membangun sebuah gedung yang bisa menampung banyak jamaah untuk mengaji, yakni gedung “Jam’iyyah al Ishlah” atau populer dengan jam’iyyah gedong. Pada waktu itu, memang Pondok Pesantren Minhajut Thullab belum ada sistem pendidikan serupa dengan pendidikan sekolah-sekolah, yang ada hanya sistem pengajian-pengajian ala pesantren sepereti sorogan, bandongan , khitobah dll.
Baru pada tahun 1947 mulai dibuka sekolah bnermateri khusus pendidikan agama atau madrasah diniyah yang dibimbing oleh KH Suyuthi. Pada tahun 1951 dibuka sekolah setingkat Madrasah Ibtidaiyah yakni MI Miftahul Mubtadin. Baru pada tahun 1976 didirikan mulai dari tingkat kanak-kanak (TK Khodijah), MTs Miftahul Mubtadin dan SMA Al Hikmah.
KH Abdul Manan adalah sosok ulama yang soleh dan zuhud. Beliau mendidik putra putrinya di rumahnya dan kemudian anak-anaknya ia pondokan ke berbagai pesantren lain. Beliau dikenal sangat teliti dengan pendidikan anak-anaknya dan para santri bahkan juga masyarakat di mana bila sudah jam 20.00 mereka diwajibkan untuk istirahat (tidur). Beliau adalah seorang yang aktif dan disiplin dengan apapun tugas. Memang awalnya beliau mendidik dan memberi pengajian kepada putra-putranya, santri dan masyarakat sendirian, belum punya tenaga pengajar dari kalangan santri. Namun setelah santri-santri sudah mampu mengajar dan mengaji, mereka dianjurkan untuk memberikan pengajian kepada santri-santri di bawahnya.
Uniknya, para santri atau tenaga pengajar yang ada di pondok Minhajut Tulab tidak dibayar dengan uang. Namun mereka dijamin dan dicukupi dalam kebutuhan makan sehari-hari, ada yang makan di ndalemnya Mbah Kyai dan ada juga yang sebagian makan di rumahnya orang-orang desa yang diberi garapan berupa sawah atau kebun dari tanah KH Abdul Manan.
Keseharian beliau adalah seorang Kiai dan seorang petani. Sedang dibidang pertanian cukup dipercayakan kepada orang lain. Beliau juga dikenal sebagai pedagang yang sukses. Cara beliau memasarkan daganagannya, beliau cukup dirumah. Kalau ada orang yang ingin menjual barangnya mereka datang ke rumah Mbah KH Abadul Manan. Sedangkan kalau beliau menjualnya cukup dipasarkan oleh orang-orang yang dapat dipercaya.
Rotan bertuah
Setelah Indonesia merdeka,m justru ada peristiwa yang lebih kejam lagi yakni pemberontakan 30 September 1965 oleh Partai Komunis Indonesia (Gerakan 30 S PKI). Kekejaman dan komunis lebih kejam lagi, banyak kyai dan santri menjadi korban PKI. Melihat tindakan seperti itu, ia bersama santri dan penduduk tidak tinggal diam. KH Abdul Manan mengutus beberapa santri untuk mencari beberapa batang rotan (Kayu penjalin) dan dijadikan azimat untuk melawan PKI.
Rotan-rotan itu oleh KH Abdul Manan setelah didoakan dipergunakan oleh para santri dan masyarakat untuk melawan dan melumpuhkan orang-orang PKI yang masih sering berkeliaran di daerah Banyuwangi. Khasiat rotan itu juga bahkan dapat membakar rumah-rumah penduduk PKI cukup dengan memukulkannya. Tidak hanya rotan yang dapat di asma’ oleh KH Abdul Manan, banyak orang yang datang sambil membawa barang kesayangannya untuk didoakan oleh beliau, seperti cincin, sorban, peci dll.
Kelebihan dan kejadugan KH Abdul Manan bukanlah sesuatu yang didapat secara instan, tetapi buah dari riyadhah sejak ia berusia mua. Saat masih menimba ilmu di pondok pesantren ia sering melakukan puasa mutih, ngrowot. Saat belajar di Mekah selama 9 tahun ia juga berpuasa secara terus menerus, kecuali 2 hari yang diharamkan untuk tidak berpuasa yakni hari Idul Fitri dan hari Idhul Adha (2 hari Idul Adha). Bahkan tak jarang ia hanya berbuka hanya sebutir kurma dan minumnya juga hanya segelas air zam-zam.
Amalan-amalan yang ia lakukan dari usia muda sampai menjelang wafat lewat memperbanyak puasa semata-semata demi keberhasilan dan kebaikan beliau untuk memperihatini (laku prihatin) agar anak –anak dan santrinya kelak dapat menjadi orang yang berhasil serta berguna bagi masyarakat banyak. KH Abdul Manan wafat pada hari Jumat Kliwon menjelang Subuh 15 Syawal 1399 H (1979 M) dan di makamkan masih di sekitar pondok pesantren Minhajut Thulab, Sumberberas, Muncar, Banyuwangi (Jawa Timur).

Kisah Karomah Mbah Ma’shum Lasem

Mbah Ma’shum Lasem, Jawa Tengah, adalah ulama besar yang tindakannya sering sulit dicerna nalar awam. Setelah peristiwanya, barulah orang mengerti apa sesungguhnya yang terjadi.

Diperkirakan, Mbah Ma’shum lahir pada tahun 1868. Dia adalah anak bungsu pasangan Ahmad dan Qosimah. Oleh orangtuanya dia kemudian diserahkan kepada Kiai Nawawi, Jepara, untuk mempelajari ilmu agama, karena sejak kecil diatelah ditinggal wafat oleh ibunya. Dari Kiai Nawai dia mendapat pelajaran dasar ilmu alat (nahwu) yang diambil dari kitab Jurumiyyah dan Imrithi.

Pengembaraannya mencari ilmu tidak sebatas di Lasem, melainkan sampai ke Jepara, Kajen (Kiai Abdullah, Kiai Abdul Salam, dan Kiai Siroj), Kudus (Kiai Ma’shum dan Kiai Syarofudin), Sarang Rembang (Kiai Umar Harun), Solo (Kiai Idris), Termas (Kiai Dimyati), Semarang (Kiai Ridhwan), Jombang (Kiai Hasyim Asy’ari), Bangkalan (Kiai Kholil), hingga Makkah (Kiai Mahfudz At-Turmusi), dan kota-kota lain.

Suatu saat, di Semarang, dia tertidur dan bermimpi bertemu Nabi Muhammad SAW. Ketika di Bojonegoro, dia tidak hanya bermimpi, melainkan, antara tertidur dan terjaga, dia bertemu dengan Nabi, yang memberikan ungkapan La khayra ilia fi nasyr al-ilmi, yang artinya “Tidak ada kebaikan (yang lebih utama) daripada menyebarkan ilmu”.

Di rumahnya sendiri, dia bermimpi kembali. Dalam mimpinya, ia bersalaman dengan Nabi Muhammad SAW, yang berpesan, “Mengajarlah, segala kebutuhanmu insya Allah akan dipenuhi semuanya oleh Allah.”

Di kemudian hari, Mbah Ma’shum menjadi ulama besar yang dikenal memiliki banyak karamah. Inilah beberapa kisah karamahnya:

Walisanga Bertamu

Ada satu kisah karamah lain yang menunjukkan ketinggian kedudukan spiritualnya. Hari itu datang sembilan orang tamu ke Lasem. Mereka ingin berjumpa dengan Mbah Ma’shum.

Namun, karena tuan rumah sedang tidur, Ahmad, seorang santrinya, menawarkan apa perlu Mbah Ma’shum dibangunkan. Ternyata mereka menolak.

Lalu mereka semua, yang tadinya sudah duduk melingkar di ruang tamu, berdiri sambil membaca shalawat, kemudian berpamitan.

“Apa perlu Mbah Ma’shum dibangunkan?” tanya Ahmad sekali lagi.

“Tidak usah,” ujar me­reka serempak lalu pergi.

Rupanya saat itu Mbah Ma’shum mendusin dan bertanya kepada Ahmad perihal apa yang baru saja terjadi.

Setelah mendapat penjelasan, Mbah Ma’shum minta kepada Ahmad agar mengejar tamu-tamunya.

Tapi apa lacur, mereka sudah menghilang, padahal mereka diperkirakan baru sekitar 50 meter dari rumah Mbah Ma’shum.

Ketika Ahmad akan melaporkan hal tersebut, Mbah Ma’shum, yang sudah bangun tapi masih dalam posisi tiduran, mengatakan bahwa tamu-tamunya itu adalah Walisanga dan yang berbicara tadi adalah Sunan Ampel.

Setelah mengucapkan kalimat terse­but, Mbah Ma’shum tertidur pulas lagi.

Beras Melimpah

Di depan para cucunya, Mbah Ma’shum memimpin pembacaan istighatsah dan membaca potongan syair Al-Burdah yang artinya, “Wahai makhluk paling mulia (Muhammad), aku tak ada tempat untuk mencari perlindungan kecuali kepadamu, pada kejadian malapetaka nan besar nanti.”

Syair tersebut dibaca 80 kali, dilanjutkan dengan doa sebagai berikut: “Ya Allah, orang-orang yang ada dalam tanggungan kami sangat banyak, tetapi beras yang ada pada kami telah habis. Untuk itu kami mohon rizqi dari-Mu.”

Selain mengamini, Nadhiroh, salah seorang cucunya, berteriak, “Mbah, tambahi satu ton.”

Ditimpali oleh Mbah Ma’shum, “Tidak satu ton, tepi lebih….”

Beberapa hari kemudian, beras seolah mengalir dari tamu-tamu yang datang dari berbagai kota, seperti Pemalang dan Pasuruan, ke tempat Mbah Ma’shum.

Masih soal beras. Pada kali yang lain, setelah mengajar 12 santrinya lalu diikuti dengan membaca Alfiyah, Mbah Ma’shum minta mereka mengamini doanya, karena persediaan beras sudah habis.

“Ya Allah, Gusti, saya minta beras….”

“Amin…,” ke-12 santri itu, yang ditampung dan ditanggung di rumah Mbah Ma’shum, khidmat menyambung doanya.

Jam sebelas siang, datang sebuah becak membawa beberapa karung be­ras. Tanpa pengantar, kecuali alamat ditempel di karung-karung beras itu. Di sana tertera jelas, kotanya adalah Banyuwangi.

Kepada santrinya yang bernama Abrori Akhwan, Mbah Ma’shum minta agar mencatat alamat yang tertera di karung itu.

Suatu saat ketika berkunjung ke Banyuwangi, Mbah Ma’shum bermaksud mampir ke alamat itu. Saat alamat tersebut ditemukan, tempat itu ternyata kebun pisang yang jauh di pedalaman. Ironisnya, masyarakat di sana hampir- hampir tak ada yang kelebihan rizqi. Lalu siapa yang mengirim beras?

“DuaTahun Lagi Saya Menyusul”

“Seandainya Paman wafat pada hari ini, saya akan menyusui dua tahun kemudian,” demikian reaksi Mbah Ma’shum ketika mendengar kabar bahwa pamannya, Kiai Baidhowi, meninggal hari itu, 11 Desember 1970.

Bahkan ucapan itu ditegaskan sekali lagi langsung di telinga almarhum ketika dia menghadiri pemakamannya, “Ya, Paman, dua tahun lagi saya akan menyusui.”

Mbah Ma’shum tutup usia pada 28 Oktober 1972 atau 12 Ramadhan 1332, sepulang dari shalat Jum’at di masjid jami’ Lasem, tak jauh dari rumahnya.

Persis seperti ucapannya, menyusui dua tahun setelah pamandanya wafat.

Mengajar atau Menolong Orang juga “Dzikir”

Kisah lain, sambil memijit badan Mbah Ma’shum, Abrori Akhwan, yang kala itu, awal dekade 1960-an, masih menjadi santri di pesantren Mbah Ma’shum, Al-Hidayat, dalam benaknya terlintas pertanyaan, kenapa Mbah Ma’shum tak pernah menggunakan peci haji atau sorban bila keluar rumah, tidak pernah berdzikir dalam waktu yang lama, dan tidak banyak kitab kuning di rumahnya.

Pikiran itu rupanya terbaca oleh Mbah Ma’shum. Tak lama kemudian, ia berujar, “Seorang kiai tidak harus meng­gunakan peci haji atau sorban. ‘Berdzikir’ kepada Allah bisa dilakukan langsung secara praktek, seperti misalnya kita mengajar atau menolong orang, tidak harus dalam waktu lama dengan bebe­rapa bacaan tertentu. Kitab kuning sebenarnya banyak, tapi dipinjam oleh Ali, anak sulungku.”

Insya Allah akan Kembali

Ketika dalam perjalanan silaturahim ke Jawa Tengah dan Jawa Timur, Mbah Ma’shum kehilangan kacamata di kereta api yang tengah meluncur, antara Tegal dan Pekalongan. Menyadari hal itu, ia kemudian mengajak para pengikutnya membaca surah Adh-Dhuha. Dan ketika sampai ayat wawajadaka dhaallam fahada, ayat tersebut dibaca delapan kali.

“Dengan membaca surah tersebut, insya Allah barang kita yang hilang akan kembali. Setidaknya Allah akan memberikan ganti yang sesuai,” katanya kemudian.

Ketika rombongan mampir ke rumah Kiai Faturrahman di Kebumen, Mbah Ma’shum melihat sebuah kacamata di lemari kaca tuan rumah, persis miliknya yang hilang. Dengan spontan ia berkata, “Alhamdulillah.”

Kepada Faturrahman, ia bertanya, “Apa ini kacamata saya?”

Dijawab Kiai Faturrahman dengan terbata-bata, “Ya mungkin saja, Mbah….”

Kemudian kacamata itu diambil dan dipakai oleh Mbah Ma’shum.

Kendaraan Soal Belakang

Kali ini soal dokar. Santri yang mengawal Mbah Ma’shum kebingungan. Se­telah maghrib, sudah menjadi kebiasaan, dokar di daerah Batang, Pekalongan, tidak akan ada yang berani keluar ke­cuali kalau dicarter. Namun Mbah Ma’shum berkata, “Shalat dulu, kendaraan soal belakang.”

Ketika itu rombongan Mbah Ma’shum sudah sampai di sebuah mushalla. Maka shalatlah mereka secara berjama’ah. Bahkan dilanjutkan hingga shalat Isya.

Setelah semua selesai, rombongan pun melanjutkan perjalanan. Dan, tanpa diduga, begitu rombongan keluar dari halaman mushalla, lewatlah sebuah do­kar kosong. Mereka pun menaikinya. Subhanallah,…

(Disadur dari Majalah Alkisah No. 26/Tahun VII)

Senin, 13 April 2015

PENGUMUMAN BEASISWA PRESTASI JENJANG SARJANA DI UNIVERSITAS JEPANG BAGI LULUSAN MADRASAH 2015

Kepada Yth.
Kepala MAN dan MAS
Se Kabupaten Banyuwangi

Berikut kami lampirkan pengumuman Beasiswa Prestasi jenjang sarjana di Universitas Jepang dan Tempat Seleksi
Untuk Pengumuman bisa di download disini
dan untuk tempat seleksi bisa di download disini
Demikian dan terima kasih

Minggu, 12 April 2015

Info Pendidikan


 
PENERIMAAN SANTRI DAN MURID BARU
Pondok Pesantren ”NURUL AMIN”  terletak di Lingkungan Secang Kelurahan Kalipuro Kecamatan Kalipuro Kabupaten Banyuwangi. Semenjak berdiri pada tahun 1973, Pondok Pesantren ”NURUL AMIN” diasuh oleh  KH. MAHMUD RIFA’I, dan dibantu  oleh Putranya  KHM. HUSAINI HAFIDH NASRULLAH, S. Pd.I,
Semenjak berdiri (tahun 1973), sudah banyak santri yang pernah ”mondok” di Pondok Pesantren  ”NURUL AMIN” ini. Mereka berasal dari berbagai daerah baik dalam kota Banyuwangi sampai dengan luar kota dan propinsi, seperti ; Jember, Situbondo, Madura bahkan Bali.
Unit dan Kegiatan Pondok Pesantren/Yayasan Pondok Pesantren ”NURUL AMIN”.
A. Pendidikan Non Formal :
  1. TPQ. NURUL AMIN.
  2. Madrasah Diniyah (Madin) NURUL AMIN.
  3. Pengajian Bandongan Kitab Kuning & Pengajian Sorogan
  4. Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an  ( LPTQ ). ( Tahsinul Qiro’ah ).
B. Pendidikan Formal :
  1. Raudlatul Athfal (RA). IBRAHIMY,                      berdiri Tahun 1992, Terdaftar
  2. Madrasah Ibtidaiyah (MI). IBRAHIMY,             berdiri tahun 1983, Terakreditasi B
  3. Madrasah Tsanawiyah (MTs). IBRAHIMY,        berdiri tahun 1991, Terakreditasi B.
  4. Madrasah Aliyah (MA). IBRAHIMY,                    berdiri tahun 2005, Terakreditasi C.

C. V I S I :

Lahirnya Insan yang Beriman Dan Bertaqwa, Berakhlaqul Karimah, Berilmu dan Beramal Sholeh yang Berhaluan Ahlusunnaha Wal Jam'ah “

D. Penerimaan Santri Baru
Dalam rangka memasuki Tahun Pelajaran 2015/2016 Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Nurul Amin Secang Kalipuro Banyuwangi menerima pendaftaran Santri baru dengan ketentuan sebagai berikut :
  • Prosedur Penerimaan Santri Baru :
  1. Calon Santri harus Sehat Jasmani dan Rohani.
  2. Calon Santri diserahkan kepada Pengasuh oleh Walinya atau Orang Tuanya sendiri.
  3. Membayar  biaya uang Almari Asrama  Rp. 50.000,-
  4. Membayar Uang Tahunan Pesantren (UTAP)   Rp. 100.000,-
  5. Menempati asrama/kamar yang ditentukan oleh Pengasuh.
  • Waktu dan Tempat Pendaftaran :
  1. Pendaftaran dibuka sejak surat/ brosur ini beredar.
  2. Tempat pendaftaran di :
–          Pondok Pesantren Nurul Amin Secang Kalipuro Banyuwangi
  • Syarat Dan Ketentuan Santri Baru :
  1. Siap dan sanggup mematuhi peraturan Pondok Pesantren.
  2. Wajib mengikuti segala jenis/bentuk pengajian dan selalu mengikuti shalat berjamaah.
E. Syarat-syarat Pendaftaran Pendidikan Formal :
A.    Raudlatul Athfal ( RA ).
  1. Didaftarkan oleh Orang tua / Walinya.
  2. Menyerahkan Foto Copy Akte kelahiran.
  3. Membayar biaya pendaftaran sebesar  Rp. 20.000,-
B.    Madrasah Ibtidaiyah ( MI )
  1. Didaftarkan oleh Orang tua / Walinya.
  2. Menyerahkan Foto Copy Ijazah/STTB RA/TK yang telah dilegalisir sebanyak 3 lembar
  3. Menyerahkan foto hitam putih 3×4 ( 3 lembar )
  4. Gratis biaya pendaftaran
C.   Madrasah Tsanawiyah ( MTs ).
  1. Didaftarkan oleh Orang tua / Walinya.
  2. Menyerahkan Foto Copy Ijazah/STTB SD/MI yang telah dilegalisir sebanyak  3 lembar
  3. Menyerahkan foto hitam putih 3×4 ( 3 lembar)
  4. Gratis biaya pendaftaran
D.   Madrasah Aliyah ( MA ).
  1. Didaftarkan oleh Orang tua / Walinya.
  2. Menyerahkan Foto Copy Ijazah/STTB SMP/MTs. yang telah dilegalisr sebanyak 3 lembar
  3. Menyerahkan foto hitam putih 3×4 ( 3 lembar )
  4. Gratis biaya pendaftaran
  • Keterangan lain yang kurang jelas dapat ditanyakan ditempat pendaftran.

Banyuwangi, 13 April 2015
Sekretaris Yasasan
MISRANTO, S.Pd

Selasa, 24 Maret 2015

Karunia Tiada Terhingga !

rainKalau kita mau jujur mengakui, jarang sekali dalam hidup ini kita menyempatkan diri untuk bertafakur tentang karunia yang dilimpahkan Allah kepada kita. Padahal, demikian banyak ayat dalam al-Qur’an yang mengajak kita untuk berfikir dan merenung. Perhatikan betapa banyak kata tatafakkarun atau ta’qilun digunakan dalam kitab suci ini. Semua itu merupakan isyarat agar manusia senantiasa menggunakan akalnya untuk berfikir, termasuk berfikir dan merenungkan limpahan karunia yang diberikan kepadanya.
Cobalah sesaat mengamati beberapa bagian tubuh yang demikian sempurna diciptakan Allah untuk kepentingan manusia. Dengan sepasang matanya manusia dapat melihat segala sesuatu yang bernama indah dalam hidupnya. Gunung-gunung yang menjulang tinggi, lautan yang biru, rumah dan perhiasan yang kemilau, wajah yang cantik atau tampan, semuanya dapat dinamakan indah hanya kalau kita mempunyai kemampuan melihatnya. Semua yang indah dan gemerlap itu tak akan ada maknanya apa-apa lagi begitu kemampuan melihat kita hilang. Yang hitam atau putih akan tampak sama saja. Yang bernilai mahal atau sebaliknya tak akan lagi ada bedanya. Dunia akan selalu terkesan gelap-gulita. Siang dan malam tak lagi punya arti apa-apa!
Sepasang telinga yang diberikan Allah kepada kita sungguh tak terhingga nilai dan harkatnya. Dengan telinga kita mendengar suara azan dan bacaan ayat-ayat suci al-Qur’an. Dengan telinga kita mendengar alunan musik yang merdu. Dengan telinga pula kita mendengar tangisan bayi atau bisikan angin. Apalah arti semua itu manakala telinga kita sudah tak mampu lagi menangkap isyarat yang diberikannya. Semua cuma akan terkesan sunyi dan sepi. Tak ada lagi beda antara kicau burung dan gemercik air mengalir!
Hidung kita diciptakan Allah dengan tingkat kesempurnaan yang amat tinggi. Melalui hidung manusia menghirup oksigen yang sangat fital bagi kehidupan. Melalui sistem respiratori atau pernafasan yang begitu unik, oksigen yang kita hirup masuk ke dalam paru-paru. Jantung kemudian memompakan darah menuju paru-paru sehingga darah akan termuati dengan oksigen. Darah yang sudah mengandung oksigen ini kemudian kembali lagi ke jantung kita dan oleh jantung dialirkan ke seluruh tubuh termasuk otak kita.
Allah melengkapi indra manusia dengan lidah, gigi dan perangkat lainnya di dalam mulut. Dengan lidah kita membedakan rasa manis, pahit, asam dan sebagainya. Lidah kita yang penuh dengan syaraf perasa bekerja dengan demikian sempurnanya sehingga kita bisa menikmati berbagai makanan dan minuman sebagai rizki yang diberikan Allah kepada kita. Cobalah kita ingat, sedikit saja terjadi gangguan pada organ-organ di mulut kita ini, berbicara, makan dan minum akan sangat terganggu.
Seperti difirmankan Allah dalam surat At-Tiin, sungguh Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang sangat sempurna. Manusia dilengkapi dengan alat perasa di tubuhnya. Dengan indra yang satu ini, ia dapat merasakan panas, dingin, ngilu dan aneka sensasi lainnya. Alat perasa ini yang memungkinkan kita cepat menarik tangan atau bagian tubuh kita yang lain ketika tersentuh sesuatu yang tidak kita kehendaki. Bayangkan seandainya manusia tidak dilengkapi dengan indra yang satu ini! Sekujur bagian tubuhnya mungkin akan terkesan hanya bagai seonggok daging mati!
Kembali kepada sepasang mata yang diciptakan Allah, cobalah kita amati betapa sempurnanya ciptaan ini. Dengan penglihatan lewat sepasang mata ini kita dapat menangkap bayangan bermacam benda yang ada. Struktur mata juga dirangkai demikian rupa dalam tujuh layers atau lapisan, dimana setiap lapisan mempunyai sifat dan bentuk tertentu. Kemampuan melihat kita akan hilang apabila satu saja dari lapisan ini tidak berfungsi. Perhatikan pula bentuk kelopak mata yang seolah berpagar, dan kedipannya yang begitu cepat. Kemampuan berkedip ini tidak diciptakan begitu saja, namun dirancang agar mata terlindung dari benda luar yang berbahaya seperti debu dan lainnya. Kelopak mata berperan seperti pintu yang bisa dibuka dan ditutup kapan saja diperlukan. Di samping berperan sebagai pelindung, kelopak mata juga diciptakan untuk memperindah mata dan wajah kita. Oleh sebab itu ia dibuat demikian rupa, tidak terlalu panjang atau terlalu pendek.
Sekarang mari kita amati air mata dengan zat asin yang terkandung di dalamnya. Air mata juga berfungsi menyapu benda asing yang masuk ke dalam mata kita. Allah juga membuat kedua sudut mata kita sedikit lebih rendah dari bagian tengahnya agar dengan begitu benda luar yang masuk ke dalamnya dapat dipinggirkan ke salah satu sisinya. Mata kita juga dilengkapi dengan sepasang alis dan bulu mata. Selain untuk mempercantik, keduanya juga bermanfaat sebagai tirai pelindung.
Untuk menutup mulut kita, Allah melengkapi organ mulut ini dengan dua belah bibir yang berperan seolah pintu yang bisa dibuka dan ditutup kapan saja. Mulut juga dibuat agar gigi dan gusi kita terlindungi. Bibir dan mulut manusia menjadi bagian yang tak bisa dilepaskan dari estetika dan keindahan. Bayangkan betapa anehnya rupa manusia tanpa mulut dan bibir! Mulut , gigi, dan semua perangkat di dalam mulut sangat berperan dalam menentukan aktivitas bicara dan mengungkapkan suara hati. Gigi-gigi di mulut kita punya arti yang sangat besar di dalam mencerna makanan dan berbicara. Gigi-gigi ini sengaja dibuat banyak jumlahnya
dan tidak merupakan kesatuan tulang, sehingga apabila sebagian rusak, sebagian lainnya masih bisa melakukan fungsinya. Sungguh ciptaan yang luar-biasa!
Di bagian dalam mulut juga diciptakan air liur yang hanya keluar saat dibutuhkan. Liur berfungsi membantu mengunyah makanan sehingga mudah ditelan dan tidak menimbulkan rasa sakit. Perhatikan bagaimana air liur ini menghilang ketika makanan sudah habis. Setelah itu, yang tersisa cuma air liur yang sekedar membasahi anak lidah kerongkongan untuk keperluan bicara, dan agar kita tidak mengalami dehidrasi di tempat itu.
Allah juga melengkapi kita dengan alat pendengaran sepasang telinga dan melengkapinya dengan kelenjar minyak pahit di dalamnya. Ini ditujukan untuk menjaga alat pendengaran dari aneka macam bahaya, termasuk serangga kecil yang akan mati jika memasuki telinga kita. Perhatikan daun telinga yang dibuat sedemikian rupa guna menangkap suara dan mengirimkannya ke lubang telinga. Bagian dalam telinga manusia dibuat berlekuk. Dengan ini maka suara dapat ditangkap dengan mudah. Telinga kita dapat menangkap gelombang suara dan menimbulkan gema di dalamnya. Ini diperlukan agar ketika kita tidur, kita masih dapat dibangunkan. Melalui udara yang dihirupnya, manusia dapat mencium berbagai aroma.
Hidung kita dibuat menonjol di tengah-tengah wajah dengan bentuk yang indah dan dilengkapi dengan dua lubang yang terbuka. Dengan indra yang satu ini, kita dapat membedakan bermacam aroma dan aneka makanan dan minuman. Aroma wangi dan harum menjadi aroma yang digemari dan demikian pula sebaliknya. Berbagai kenikmatan dan kelezatan hidangan akan dapat ditangkap lewat indra penciuman. Hidung juga berfungsi sebagai penyejuk suhu panas di dalam tubuh.
Allah menciptakan pangkal tenggorokan sebagai tempat keluarnya suara. Perhatikan bagaimana lidah kita bisa bergerak dan memutar. Suara kita bisa dikontrol melalui jalur pita suara yang berbeda-beda sesuai dengan perbedaan bunyi yang keluar. Dengan cara ini maka bunyi bisa dikeluarkan sesuai keperluannya. Pangkal tenggorokan manusia diciptakan Allah dalam bentuk yang tidak sama satu dengan yang lain. Ada yang sempit, luas, dan lunak. Ada yang panjang dan ada pula yang pendek. Dengan demikian maka tak ada suara orang yang sama persis.
Betapa uniknya! Dari sekian miliar manusia di dunia, masing-masing mempunyai suara yang berbeda! Sekarang mari kita lihat tangan dengan jari-jarinya yang mengagumkan itu. Tangan diciptakan untuk memungut segala sesuatu yang kita perlukan , dan menangkis datangnya ancaman. Amati dengan seksama jari-jari tangan kita! Ruas jari-jari yang demikian rupa dibuat berbeda bukannya tanpa alasan. Keempat jari dibuat searah, sementara jempol diciptakan menghadap ke arah lain. Dengan posisi seperti ini, kita bisa menggenggam dan memberikan sesuatu dengan tepat. Satu saja dari jari-jari ini kehilangan fungsinya, maka pekerjaan tangan kita akan sangat terganggu. Dengan kedua kakinya manusia dapat berjalan dan melangkah dengan sempurna. Telapak kaki kita juga dilengkapi dengan jari-jari yang selain sebagai penyelaras, jari-jari ini juga berfungsi sebagai penguat ketika kita berjalan. Satu saja dari jari-jari kita ini kehilangan perannya, maka pasti berjalan kita menjadi tidak sempurna lagi.
Demikian sempurna dan persisnya semua ciptaan ini sehingga tak akan ada yang mampu menyaingi ciptaan seperti ini. Untuk keperluan bergerak, diciptakan Allah persendian yang menyambung struktur tulang. Persendian ini kemudian disambung dan diikat satu dengan yang lain yang terdapat pada salah satu ujung tulang dan diletakkan di ujung yang lain seperti pembalut. Agar pergerakan kita mudah, Allah pun menciptakan salah satu ujung ini menonjol sementara yang lain melekuk. Perhatikan hebatnya gangguan gerak yang terjadi manakala terjadi masalah di sendi atau tulang-tulang ini.
Kepala yang di dalamnya terdapat otak sebagai pusat syaraf manusia diciptakan sedemikian cermatnya. Kepala manusia terdiri dari 55 tulang dengan bentuk yang berbeda-beda. Tulang-tulang ini dibentuk sedemikian rupa sehingga membentuk batok kepala yang kuat. Enam dari tulang-tulang ini terdapat pada tengkorak kepala, sementara dua puluh empat pada rahang bagian atas, dan dua tulang pada rahang bagian bawah. Selebihnya, terdapat pada gigi kita. Allah menciptakan tengkuk leher sebagai pusat kepala. Bagian ini terdiri dari tujuh tulang belakang yang berongga dan berbentuk bulat. Apa yang dapat saya tulis di atas hanyalah sebagian kecil dari ciptaan Allah bernama manusia yang begitu sempurnanya.
Tubuh kita dengan semua organ yang dimilikinya bekerja dengan aneka sistem yang sangat jitu. Sistem-sistem ini bekerja dengan seksama siang dan malam tanpa lelah. Paru-paru, jantung, ginjal, hati dan semua organ yang lain menjalankan fungsinya masingmasing dengan cermat dan tepat. Allah menciptakan otak manusia dengan berjuta sel di dalamnya yang berkemampuan luar biasa mengatur setiap organ yang ada di tubuh kita. Penderitaan berupa penyakit yang dialami seseorang hendaknya senantiasa menjadi perhatian dan sekaligus peringatan bagi kita akan besarnya arti dan makna karunia yang dilimpahkan Allah kepada kita. Sedikit saja terjadi penyumbatan di otak kita, akan membuat kita tak lagi mampu berjalan, bercakap, melirik atau menggerakkan tubuh kita yang lain. Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air sperma (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air sperma itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik.
Selagi semua anugerah dan karunia tiada terhingga ini kita miliki, maka hendaknya kita senantiasa berusaha menjadi insan yang lebih saleh, lebih berbakti, serta lebih berguna bagi agama dan manusia. Angan-angan meraih semua itu ketika tubuh sudah tidak berdaya tak lagi banyak gunanya…..! Drs. Husein Shahab.

Melindungi Umat Dari Paham Menyimpang

0safallraining1Menjaga agama sesuai dengan ketentuan pembawa syariat (Rasulullah SAW) pada dasarnya merupakan tanggung-jawab seluruh umat Islam, terutama para ulama dan cendekiawan muslim. Ini penting dalam rangka membentengi umat Islam secara keseluruhan dari ber-bagai paham yang rentan dan kerap menyusup di tengah khairul-ummah ini. Agama merupakan tuntunan yang tidak hanya bersifat personal tapi juga komunal. Kebodohan yang ada pada umat tak boleh dibiarkan. Harus ada upaya-upaya kongkret untuk memberikan pemahaman kepada mereka mengenai ajaran yang benar dan jauh dari segala bentuk penyimpangan.
Kelak orang-orang bodoh tidak akan ditanya mengapa mereka bodoh, tetapi yang berilmu akan ditanya mengapa membiarkan yang bodoh tetap dalam kebodohan. Al-Qur’an dan sunnah Rasul harus lebih sering disosialisasikan di tengah umat yang lebih kerap menerima informasi-informasi sekuler atau hanya bersifat duniawi di tengah-tengah era globalisasi ini. Juga pengaruh-pengaruh yang dihembuskan oleh paham-paham sesat. Paham-paham menyimpang senantiasa tumbuh di setiap kurun waktu dan tentu amat berbahaya jika tidak segera “diperangi” dengan informasi dan tindakan yang sesuai Al-Qur’an dan Sunnah. Jika pada era klasik (salaf) saja paham-paham menyimpang itu sudah bermunculan, apalagi di era serba cepat dan canggih ini.
Umat Islam wajib menolak segala hal yang menyimpang dari Al-Qur’an dan sunnah Rasul. Belakangan muncul berbagai isu di sekitar kita sehingga berpotensi menimbulkan keresahan. Misalnya saja paham bahwa ibadah shalat tidak harus dilakukan dengan bahasa Arab (muncul di Malang), pelaksanaan shalat dengan menghadap gunung tertentu dan bukan menghadap Qiblat (muncul di Trenggalek), ibadah haji tidak harus di bulan Dzul-Hijjah, semua agama dianggap sama benarnya (JIL), pengakuan adanya nabi setelah Nabi Muhammad SAW (kelompok Ahmadiyah Qadyani dan lainnya), ibadah cukup dengan mengingat Tuhan dalam hati (Kebatinan), paham bahwa akhirat tidak kekal (Agus Mustofa) dan masih banyak contoh lainnya.
Semua contoh di atas merupakan paham yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan sunnah Nabi SAW. Demikian pula dengan beberapa sekte Islam yang telah lebih dahulu muncul di era salaf, misalnya paham bahwa manusia memiliki pilihan dan otoritas penuh atas segala yang dilakukannya dan tak ada kaitannya dengan takdir Tuhan (Mu’tazilah dan Qadariyah). Juga bahwa maksiat tidak masalah jika disertai iman (Murji’ah), atau bahwa segala perbuatan hamba adalah takdir Tuhan semata dan tak ada efeknya bagi diri makhluk termasuk perbuatan maksiat (Jabariyah). Ada pula kelompok yang mengkufurkan atau mengharamkan orang yang bertawassul dan ziarah kubur (Wahhabi, Muhammad Abduh, Rasyid Ridho dan seterusnya).
Kelompok lain yang menyimpang dari sunnah Rasul misalnya kelompok yang menganggap kemungkinan terjadinya peleburan Tuhan dengan makhluk-Nya alias paham ittihad dan hulul (diprakarsai oleh Al-Hallaj, Syekh Lemah Abang, para Sufi tak berilmu). Ada kelompok yang berlebihan dalam menyanjung Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. namun memaki-maki sahabat lainnya seperti Abu Bakar r.a. dan Umar bin Al-Khattab r.a. yang keduanya sangat dicintai oleh Nabi SAW (Rafidhah dan Syiah Imamah Itsna’asyariyah). Perhatikan juga kelompok yang berpendapat bahwa jika seorang hamba telah mencapai puncak cintanya (kepada Allah) dan hatinya jernih dari sifat lalai dan memilih iman di atas kufur, maka perintah dan larangan Allah tidak berlaku lagi pada mereka. Mereka tidak akan masuk neraka sekali pun mengerjakan dosa besar (Abahiyyin).
Ada pula kelompok aneh yang mengatakan bahwa Tuhan hanya menciptakan alam semesta dan selanjutnya apa pun yang terjadi adalah di luar kehendak-Nya. Bahkan menurut aliran ini alam itu sendiri yang punya kendali atas dirinya secara mutlak (kelompok Fulasifah Dahriyah yang terpengaruh oleh pemikiran Plato dan Aritoteles). Kelompok Fulasifah Ilahiyah lain lagi. Mereka mengakui adanya Tuhan namun mengingkari kenabian dan kerasulan. Di samping semua kelompok di atas, ada kelompok yang mengatakan bahwa keberadaan semesta merupakan efek niscaya dari keberadaan Tuhan (Fulasifah Thab’iyah, dan kelompok apa pun yang mengingkari atau menyekutukan Allah SWT atau mengkufuri keberadaan alam akhirat.
Memahami Arti Bid’ah
Ajaran agama memang tidak memberikan toleransi pada penyimpangan dan perbuatan mengada-ada (bid’ah) yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi. Tindakan bid’ah harus dibasmi atau setidaknya dipersempit ruang geraknya. Hal itu tak lain dalam rangka melindungi mayoritas umat yang oleh Nabi SAW disebut dengan istilah al-Firqat an-Najiyat (kelompok yang bakal selamat di akhirat) dari kemungkinan menyimpang. Kita harus senantiasa mengingat beberapa pesan Nabi SAW terkait tindakan bid’ah dan munculnya sempalan-sempalan pembawa ajaran sesat tersebut seperti beberapa hadits di bawah ini: “Barangsiapa memperbaharui dalam urusan kami (agama) ini sesuatu yang tidak bersumber dari padanya maka tertolak.” (HR Al-Bukhari-Muslim dari Aisyah r.a.). Nabi SAW juga bersabda : “Maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad dan sejelek-jelek perbuatan adalah segala perbuatan yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR Muslim-Turmudzi dari Jabir bin Abdillah r.a.)
Yang juga perlu dipahami adalah bahwa tidak semua amalan yang tidak terdapat di masa Rasulullah SAW dengan serta-merta termasuk kategori bid’ah dhalalah. Imam Asy-Syafi’i menegaskan hal itu. Kegiatan-kegiatan semisal dzikir secara kolektif sebagaimana dalam majlis-majlis tarekat dan semacamnya, atau kegiatan memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dengan membaca shalawat secara bersama-sama sebagaimana tradisi yang ada di negeri ini tidak bisa digolongkan pada bid’ah dhalalah. Substansi amalan ini terkandung dalam ajaran Islam. Bahkan hal itu sangat baik dan perlu ditradisikan, sebab bisa menambah rasa cinta kita kepada Allah SWT dan Rasul- Nya, menjadi momen untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah dan memberikan pemahaman agama kepada umat. Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa membuat suatu tuntunan baik dalam Islam maka baginya pahala dan pula pahala orang yang menirunya tanpa mengurangi pahala orang yang menirunya sedikit pun, dan barangsiapa membuat suatu tuntunan jelek maka baginya dosa dan pula dosa orang yang menirunya tanpa mengurangi dosa orang yang menirunya sedikit pun.” (HR Muslim dan At-Turmudzi dari Al-Mundzir bin Jarir dan ayahanya)
Oleh karena itu maka tak ada alasan untuk menolak kegiatan-kegiatan positif dan bermanfaat seperti itu. Bid’ah dhalalah adalah perbuatan yang mengada-ada yang tidak bersumber sama sekali pada dalil agama atau bahkan bertentangan dengan dalil agama yang sudah jelas. Misalnya seseorang melakukan shalat ba’diyah Ashar atau ba’diyah Shubuh. Contoh lain adalah anggapan bahwa masih mungkin ada nabi lagi setelah Nabi Muhammad SAW.
Urusan agama menyangkut keselamatan manusia di dunia hingga akhirat. Oleh karenanya maka menimba ilmu agama harus dari sumber yang bisa dipertanggung- jawabkan. Dalam sejarah agama-agama samawi sebelum Islam telah terjadi distorsi-distorsi yang sangat menodai agama. Ini menjadi biang perselisihan yang terjadi di tengah Ahlul-Kitab. Kemurnian agama lantas dipertanyakan karena telah bercampur dengan berbagai kepentingan yang kian mengaburkan ajaran yang sesungguhnya. Kita sebagai umat Islam jangan membiarkan hal semacam itu terjadi pada agama kita ini.
Para perawi hadits sekaliber Imam Malik bin Anas, Al-Bukhari, Muslim An-Naisaburi, Abu Daud, Ahmad bin Hanbal, At-Turmudzi, An-Nasa’i dan Ibn Majah benar-benar selektif dalam menerima riwayat sunnah yang menjadi sumber kedua ajaran Islam setelah Al-Qur’an. Hal itu mereka lakukan tak lain karena ingin menjaga agar ajaran agama tidak sampai terkontaminasi oleh riwayat-riwayat yang tidak bersumber dari Nabi SAW. Dari metode seleksi mereka itulah lantas muncul klasifikasi riwayat menjadi shaheh, hasan dan dhaif. Apa yang terjadi pada agama-agama samawi pra Islam menjadi pelajaran amat penting bagi perjalanan ajaran Islam di tengah umat.
Originalitas Dan Totalitas
Setelah agama (Islam) ditawarkan melalui dialog yang logis dan rasional sebagai sebuah ideologi, maka tak perlu dipersoalkan lagi berbagai ragam ajaran amaliyah yang ada di dalamnya. Agama pada dasarnya menyangkut sebuah tindakan taat tanpa reserve. Hanya itu cara efektif untuk mengantisipasi penodaan dan penyebalan terhadap ajaran agama. Agama harus diterima secara utuh dan sebagai sebuah totalitas sikap. Tak perlu ada yang dikurangi atau ditambahi. Barangkali itulah arti yang terkandung dalam firman Allah SWT : “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkahlangkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.”(QS Al-Baqarah [2]: 208)
Untuk menjadi umat Islam yang kaffah sebagaimana pada ayat di atas tak ada cara lain selain dengan memahami ajaran Islam dengan benar dan komprehensif. Pemahaman yang parsial (setengah-setengah) kerap menjadikan seseorang terjebak dalam kesalahpahaman yang kadang sampai berakibat fatal, bahkan melakukan penyimpulanpenyimpulan yang jauh dari maksud yang sebenarnya. Lebih fatal lagi apabila pemahaman keliru itu lantas ditularkan atau diajarkan kepada orang lain yang juga tidak mengerti agama. Orang seperti itu termasuk kategori sesat dan menyesatkan.
Sebagai contoh adalah pandangan bahwa Islam tidak perlu didakwahkan kepada umat lain yang sudah beragama berlandaskan ayat 6 dalam QS Al-Kafirun : “Untukmu agamamu dan untukku agamaku.” Paham-paham yang merupakan sempalan-sempalan dalam Islam kerap muncul karena pemahaman yang parsial semacam itu. Mereka menggunakan satu dalil secara lahiriah dan mencampakkan dalil lain yang terkait. Bisa juga karena kesalahan persepsi tentang suatu dalil yang melahirkan sebuah pengertian yang tidak dimaksudkan dari dalil tersebut.
Lantas mereka menularkannya kepada orang lain melalui kekuatan yang dimilikinya seperti terjadi ketika orang-orang berpaham Mu’tazilah, Rafidhah atau bahkan sekuler berkuasa di sebuah wilayah atau negara. Umat memerlukan orang-orang yang memiliki kapasitas keilmuan agama yang mumpuni dan berjiwa penegak kebenaran yang pemberani. Hanya dengan itu ajaran Islam dapat terpelihara dari upaya kontaminasi dan distorsi. Jika Allah SWT telah menjamin Al-Qur’an dari pengubahan sebagaimana dalam QS Al-Hijr [15]: 9), maka kita juga wajib menjaga agama ini dari penyimpangan-penyimpangan dan paham-paham yang tidak bertanggung- jawab…..

Ragam Modus Kristenisasi

Sepertinya kini para misionaris semakin kreatif saja dalam melancarkan misimisi kristenisasi di negeri ini. Beberapa waktu lalu majalah ini menulis geliat mereka di tengah berkecamuknya bencana Merapi. Berkedok bantuan kemanusiaan, mereka membaptis kaum muslimin dengan imbalan sepotong roti. Fakta itu sungguh membuat hati kita merasa miris. Dengan liciknya, mereka menghasut saudara-saudara kita yang tengah kesusahan agar masuk ke perangkap mereka. Peristiwa itu bisa kita jadikan sebagai pembelajaran agar ke depan tidak terulang kembali.
Upaya kristenisasi di anyuwangi yang baru-baru ini terjadi boleh dibilang sebagai modus baru. Para penginjil mengirim seorang utusan untuk menyusup ke tengah masyarakat muslim. Tak tanggung-tanggung, utusan itu mereka masukkan ke sebuah pondok pesantren. Di pesantren ini, si utusan berusaha merusak citra Islam dari dalam dan mengiming-iming warga sekitar untuk menganut Kristen.
Menyamar
Pesantren yang menjadi target kristenisasi ini adalah Sunniyah Salafiyah Miftahul Ulum, Laban Asem Kabat, Banyuwangi. Pada 23 Januari 2011 lalu, mereka menerima tamu seorang lelaki yang mengaku bernama Muhammad Yusuf yang diantar oleh seorang temannya. Dengan memakai logat Batak ia bertutur bahwa ia berasal dari Jakarta dan ingin mempelajari agama Islam. Ia juga mengaku menjadi muallaf karena ingin mendapatkan kebenaran yang selama ini ia dambakan. Dari Jakarta ia lari ke Lombok karena takut terhadap keluarganya yang tak merestuinya masuk Islam. Selama di Lombok ia dikhitan lalu pergi ke Bali untuk nyantri kepada seorang Ustad. Di tempat ini ternyata ia tak pernah diajari apa-apa, malah ia mengeluhkan laptopnya yang selalu dipinjam sang ustad untuk menyaksikan film-film dewasa. Ia juga mengaku mahasiswa Univesitas Negeri Jakarta. Dari KTP yang diserahkan kepada pengurus pesantren, diketahui bahwa nama aslinya adalah Hezkiel Fernandes, berasal dari Riau dan telah menganut agama Islam.
Setelah resmi menjadi santri, Hezkiel atau Yusuf memulai aksinya. Ia kerap masuk ke kampung-kampung yang ada di sekitar pesantren. Kepada warga ia bercerita bahwa sesungguhny ia adalah anak orang berduit. Ayahnya kaya raya dan menjadi donatur terbesar dalam misi kristenisasi. Konon, ayahnya telah membangun 500 rumah yang diperuntukkan orang-orang yang masuk Kristen.
Ibundanya adalah karyawan Badan Pertanahan Negara (BPN). Oleh kedua orang tuanya, ia disekolahkan di Taman Kanak- Kanak elit khusus Kristen yang uang masuk-nya saja senilai 40 juta rupiah. Ia pernah mengikuti Olimpiade Matematika di Athena dan menjadi juara pertama. Peserta lainnya mengerjakan soal dalam waktu 5 menit, sementara ia menyelesaikan dalam durasi 2 menit saja. Begitulah ceritanya kepada warga kampung.
Hezkiel sungguh pandai berbicara. Kendati omongannya tergolong sangat muluk,namun ia berhasil membuat warga terkagum-kagum kepadanya. Yang unik, setiap kali bercerita ia selalu menyelipkan kalimat yang bernada hasutan, “jika kamu masuk Kristen maka hidupmu akan berubah!” Ia selalu mengulang-ulang kalimat itu.
Sejauh itu pengurus pesantren belum mengendus gelagat Hezkiel. Bahkan karena kalihaiannya berbahasa Inggris, ia kemudian didaulat oleh pengurus untuk mengajar Bahasa Inggris kepada para santri. Ia juga diminta memberikan les matematika kepada santri yang mau mengikuti Ebtanas.
Berkat kepiawaian bergaul itu, maka Hezkiel diterima oleh masyarakat setempat. Tiap malam ia diajak makan di rumah warga secara bergantian. Ia begitu membumi dengan warga, dan jelas terlihat bahwa ia memang terlatih untuk misi itu. Ia menyantap segala suguhan yang dihidangkan warga kepadanya dan selalu memujinya. Ketika para santri berenang di sungai, si Hezkiel pun tak canggung berbaur dengan mereka. Pendek kata, ia berhasil mencuri hati mereka.
Sementara itu tampaknya hanya segelintir orang yang menaruh curiga terhadapnya. Di antaranya adalah Fathur Rozi dan Sayid Faqih Bilfaqih. Kedua santri itu kebetulan sekamar dengan Hezkiel di pesantren. Mereka curiga karena setiap kali telpon, Hezkiel senantiasa menyendiri di sungai. Setiap kali mendapat SMS, ia langsung menghapus setelah membacanya. Kecurigaan juga tumbuh karena di laptop Hezkiel tak ada foto keluarganya sama sekali.
Belakangan ternyata diketahui bahwa handphone dan laptop Hezkiel penuh dengan video-video porno. Ia sering meminjamkan laptopnya itu kepada anak-anak sembari berkata kepada mereka bahwa video-video tersebut adalah milik ustadnya di Bali. Dari sini tercium gelagat bahwa Hezkiel berupaya merusak citra Islam dan menarik simpati anak-anak kepadanya. Pernah juga Fathur Rozi dan Faqih mendapati Hezkiel membawa injil. Ketika ditanyai perihal injil itu, Hezkiel berkilah bahwa ia memang sengaja membawanya sebagai perbandingan.
Ketahuan
Suatu kali, pada telepon genggam Hezkiel terlihat pesan pendek yang sempat dibaca oleh Fathurrozi. Dalam pesan pendek itu termuat singkatan GBU. Karena penasaran Fathurrozi bertanya kepada Hezkiel mengenai kepanjangan GBU. Hezkiel tak mau berterus terang, ia hanya menjelaskan bahwa singkatan itu hanyalah doa bahwa ia akan mendapatkan keberkahan tuhan. Dalam tradisi Kristen, GBU adalah kepanjangan “Gos Bless You” yang berarti “semoga tuhan memberkatimu.” Kecurigaan semakin besar tatkala Hezkiel diajak mengikuti haul Syekh Abu Bakar bin Salim di kelurahan Mandar yang dihadiri Habib Munzir al-Musawa. Ia kelihatan sangat resah di tengah acara itu. Kitab Maulid Dhiyaulami’ yang diberikan padanya hanya ia buka sebentar. Ia selalu menoleh ke kanan-kiri seolah ingin segera beranjak dari majelis itu.
Akhirnya, para pengurus sepakat hendak membongkar kedok Hezkiel. Ia dipancing untuk mengikuti jamuan makan malam di rumah salah seorang warga. Pada saat Hezkiel berada di rumah warga, pengurus pesantren menggeledah kamarnya. Mereka mendapati telepon genggam dan laptop Hezkiel yang penuh dengan video porno. Di tas laptonya, terdapat buku injil yang selama ini setia menemani Hezkiel. Sementara itu, di telepon genggam miliknya terdapat pesan pendek dari Nyoman dengan nomor 08123806336 yang belum sempat dihapus. Pesan ini berbunyi: “Shalom dik, sy harp tetap tenang, TUHAN YESUS Juruselamat kita, pembeladn pelindung kita, tetaplh berdoa, TUHAN pasti menyelmtkn dari prsoalnmu, sbab kalo hezkiel mengalami ini karma DIA, DIA menolongmu, nmun penyamarnmu tetap hrs bijak, sy setuju,jk hezki mrsa tdk aman di sini, lari saja k dpsr GBU..” (Pesan pendek kami muat sesuai tulisan aslinya, red)
Selasa Pagi, 01 Februari 2011, para pengurus pesantren melaporkan Hezkiel kepada kepolisian setempat. Ia pun langsung digelandang ke kantor polsek. Pada sore hari ia masih terlihat di kantor Polsek, akan tetapi pada malam harinya ia sudah menghilang entah kemana.
Patut diwapadai, ia adalah mata-mata yang ditugasi memantau dan mempelajari kehidupan pesantren di tanah air. Ia menyendiri di sungai dekat pesantren itu guna memberikan laporan kepada lembaganya via telepon genggam. Penyebaran video-video mesum yang ia akui sebagai kepunyaan ustadnya di Bali kepada anak-anak kampung bertujuan menanamkan stigma negatif terhadap para guru ngaji. Ucapannya bahwa dengan menjadi Kristen seorang akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik, jelas merupakan hasutan yang diharapkan bisa menarik satu-dua orang warga.
Aksi-aksi seperti yang dilakukan Hezkiel ini lumrah saja dalam misi kristenisasi. Paulus pernah menyatakan dalam Bible, “Berdusta bukanlah suatu dosa apabila dilakukan untuk memuliakan tuhan, tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaannya mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang-orang yang berdosa.” (Roma 3 : 7). Sementara itu Matius (10 : 16) menambahkan,”Lihat Aku mengutus kamu seperti domba ketengah-tengah srigala. Karena itu hendaklah kalian cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.’’
Penyusupan seperti di Banyuwangi pernah pula terjadi di Bandung. Waktu itu ada seorang pendeta yang telah lama mendalami Islam masuk ke masjid-masjid dan mempengaruhi para pemuda masjid untuk saling silang pendapat mengenai masalah ubudiah. Usahanya itu mengakibatkan terpecahnya persatuan di tengah jamaah di masjid. Mereka termakan oleh adu domba si pendeta yang memang berilmu lumayan mumpuni. Namun pada akhirnya siasat penyusup itu terendus juga oleh jamaah dan ia pun angkat kaki dari daerah itu.
Lebih ironis lagi upaya kristinesasi pada tanggal 23 Juni 2010 dengan kedok bimbingan belajar matematika dan bahasa Inggris di Perumahan Kemang Regency, tepatnya di jalan Komala 2 Blok L No. 14 F Jakarta. Pemilik Pusat Bimbingan Belajar ini adalah Hendri Leonardi Sutanto sebagai Ketua Yayasan Mahanaim. Di tempat itu berlangsung pembaptisan massal dengan mendatangkan 14 buah minibus dari daerah Senen, Tanah Tinggi, Koja. Sebanyak 420 orang, mulai dari anak-anak, ibu-ibu, bapak-bapak sampai nenek-nenek berkumpul di tempat itu. Banyak diantara wanita-wanita yang datang memakai jilbab. Ketika ditanyai oleh seorang ustad yang mendatangi tempat itu tentang tujuan kedatangan mereka, mereka menjawab bahwa mereka diajak rekreasi, berenang dan diiming-imingi sesuatu secara gratis.
Ada juga yang menjawab tidak tahu. Sementara itu, koordinator pembaptisan bernama Andreas Dusli Sanau mengatakan bahwa acara ini adalah bimbingan belajar matematika dan bahasa Inggris. Sungguh janggal dan lucu. Untuk apa ibu-ibu, anak-anak kecil, bahkan nenek-nenek belajar matematika dan bahasa Inggris?
Beruntung bahwa aksi Hezkiel di Banyuwangi segera terbongkar, dan beruntung pula warga pesantren tidak tersulut amarah hingga menghakiminya. Namun kejadian di atas membuka mata kita bahwa usaha kristenisasi di negeri ini tak pernah berhenti. Para penginjil selalu mengamati kondisi kita, dan tatkala mereka melihat kita lengah dan lalai, mereka langsung melancarkan aksi. Toleransi, kerukunan antar umat beragama dan pluralisme sesungguhnya hanyalah ucapan-ucapan manis yang mereka tawarkan lewat media. Di balik semua itu, mereka selalu berusaha merongrong Islam dari segala penjuru. Baiknya kita selalu mengingat wanti-wanti Allah SWT di dalam salah satu firman-Nya yang berbunyi, “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sampai kamu mengikuti agama mereka.” …! CN

Menuju Khusnul Khatimah

Menuju Khusnul Khatimah
Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib ra dalam hadits yang panjang ia berkata: Rasulullah saw naik mimbar lantas memuji Allah dn menyanjung-Nya dan bersabda, “Sebuah kitab Allah telah menuliskan padanya para penghuni syurga dengan nama-nama mereka, dengan nasab-nasab mereka…. Amal-amal itu dinilai yang akhirnya”. HR. Ath Thabarani dalam Al Ausath, sebagaimana disebut dalam Kanzul ‘Ummaal. Berikut ini penulis sampaikan 11 jalan bimbingan Rasulullah saw. menuju khusnul khatimah. Semoga bermanfaat untuk kita semua. Amin!!
  1. Banyak melafadzkan kalimat ikhlas, yaitu laa ilaaha illallah. Begitu ada orang yang sedang naza’ (sekarat) hendaklah dituntun (ditalqin) untuk mengucapkan kalimat tersebut di akhir hayatnya. Dalam sebuah hadits hasan diriwayatkan Rasulullah saw bersabda:
من كان آخر كلامه لا إله إلا الله دخل الجنة
“Barang siapa yang akhir ucapannya laa ilaaha ilallah ia masuk syurga”.
2. Jihad fi sabilillah. Rasulullah saw telah melakukan dan memerintahkan jihad fi sabilillah. Dan Rasulullah saw pun mengakhiri hidupnya dengan wafat sebagai syahid. Suatu ketika beliau perang. Lantas mendapatkan hadiah berupa masakan daging kambing dari seorang wanita yahudi. Walhasil Rasulullah saw pun keracunan begitu pula seorang shahabatnya. Pengaruh racun itu telah membuat gugurnya shahabat itu, adapun terhadap Rasulullah saw , pengaruh itu baru muncul di saat-saat akhir hayat Beliau saw. Dan bukti bahwa mati syahid itu adlah kematian yang khusnul khatimah adalah sebuah hadits shahih beliau saw ketika bersabda:
للشهيد عند الله ست خصال : يغفر له في أول دفعة من دمه ويرى مقعده من الجنة ويجار من عذاب القبر ويأمن الفزع الأكبر ويحلى حلية الإيمان ويزوج من الحور العين ويشفع في سبعين إنسانا من أقاربه
“Bagi orang yang mati syahid mendapatkan 6 hal; diampuni dosanya di saat pertama kali darah tertumpah, ia melihat tempat duduknya di syurga, dilindungi dari adzab kubur, aman dari kegentingan yang dahsyat di hari kiamat, dipakaikan untuknya perhiasan iman, dinikahkan dengan al huur al ‘iin (bidadari), dapat memberikan syafa’at bagi 70 orang dari kerabatnya”.
3. Sabar dalam wilayah karantina karena wabah Tho’un yang mematikan. Karantina ini berlaku bagi siapa saja yang berada d wilayah wabah penyakit itu. Karena dikhawatirkan bil ia keluar maka akan membawa bibit penyakit ke wilayah lainnya. Sabar seperti itu berpahala besar, dan jika ia mati karenanya maka ia mendapatkan khusnul khatimah karena termasuk mati syahid.
Aisyah ra., dalam sebuah hadits shahih diriwayatkan berkata, Aku telah bertanya Rasulullah saw perihal tha’un, maka beliau memberitahukan kepadaku bahwa tha’un itu dulu merupakan azab atas orang-orang yang dikehendaki-Nya dan Allah menjadikannya rahmat bagi orang-orang yang beriman. Maka tidaklah seseorang tertimpa oleh wabah tha’un dan ia tetap tinggal di negerinya dalam keadaan sabar dan mengharapkan pahalanya, ia tahu bahwa tidak akan menimpanya kecuali apa yang telah Allah tuliskan untuknya melainkan ia akan mendapatkan pahala mati syahid.
Dalam riwayat lain yang shahih pula Rasulullah saw bertanya kepada para shahabatnya, “Siapakah menurut kalian orang yang syahid itu?” mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, orang yang gugur dalam perang sabilillah maka ia seorang yang mati syahid.” Beliau berkata, “Kalau begitu para syuhada ummatku hanya sedikit.” Mereka berkata, “Maka siapakah mereka itu wahai Rasululah?” Beliau bersabda, “Barang siapa terbunuh dalam perang sabilillah maka ia seorang syahid, barang siapa yang mati di sabilillah maka ia seorang syahid, barang siapa yang mati karena tha’un maka ia seorang syahid, siapa yang mati karena sakit perut maka ia syahid dan yang (mati) tenggelam juga syahid.”
4. Mempertahankan hak milik yang dirampas. Jika hal itu terjadi, hingga seorng muslim yang mempertahankan hartanya itu harus mati, maka ia juga mati dalam keadaan syahid. Dalam hadits yang shahih Rasulullah saw bersabda,
من قتل دون ماله (وفي رواية : من أريد ماله بغير حق فقاتل فقتل) فهو شهيد
“Barang siapa yang terbunuh mempertahankan hartanya, (dalam riwayat lain: Barang siapa yang dikehendaki hartanya tanpa hak lantas ia melawannya kemudian terbunuh maka ia mati syahid”.
5. Ribath fi sabilillah. Yaitu tugas berjaga-jaga saat memanasnya keamanan negeri Islam. Siapa yang mati saat seperti itu maka ia pun mendaptkan husnul khatimah.
Dalam hadits shahih pula Rasulullah saw bersabda, :
رباط يوم وليلة خير من صيام شهر وقيامه وإن مات جرى عليه عمله الذي كان يعمله وأجري عليه رزقه وأمن الفتان
“Ribath sehari semalam itu lebih baik daripada puasa dan shalat malam sebulan. Dan jika ia mati mengalirlah pahala amal yang ia lakukan itu, rizkinya dialirkan kepadanya, dan ia pun aman dari fitnahnya juru penanya”.
6. Menuntut ilmu syar’i. Rasulullah saw bersabda dalam hadits yang shahih,:
من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له طريقا إلى الجنة
“Barang siapa yang menempuh jalan dalam rangka menuntut ilmu Allah memudahkan baginya jalan menuju syurga”.
Dalam sabda yang lainnya yang juga shahih: “Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan untuknya maka Allah faqihkan ia dalam agama”.
7. Rajin amal shalih. Seorang muslim yang rajin beramal shalih sangat mungkin saat ajal menjemputnya pun ia sedang melakukan kesalihan. Dengan begitu insya Allah ia dapatkan husnul khatimah. Lagi pula kesaksian masyarakat kaum muslimin yang adil terhadap suatu jenazah bahwa ia baik, maka hal itu pun menandakan husnul khatimahnya pula. Rasulullah saw dalam hadits shahih bersabda,:
( ما من مسلم يموت فيشهد له أربعة من أهل أبيات جيرانه الأدنيين أنهم لا يعلمون منه إلا خيرا إلا قال الله تبارك وتعالى : قد قبلت قولكم أو قال : بشهادتكم وغفرت له ما لا تعلمون )
“Tidaklah seorang muslim mati, lantas ada empat orang dari penghuni rumah-rumah tetangganya terdekat yang bersaksi bahwa mereka tiada melihat darinya kecuali kebaikan melainkan Allah tabaraka wa ta’ala berfirman: “Telah Aku terima pernyataan kalian, atau kesaksian kalian, dan Aku telah ampunkan untuknya apa yang tiada kalian ketahui”.
8. Menirukan ucapan muadzdzin, lantas membaca doa yang diajarkan Rasulullah saw setelah mendengar adzan. Sabda Rasulullah saw,: “Maka ia akan mendapatkan syafaatku di hari kiamat”. Tentu ini juga berita gembira menuju khusnul khatimah. Adapun doa itu berbunyi sbb:
اللهم رب هذه الدعوة التامة والصلاة القائمة آت محمدا الوسيلة والفضيلة وابعثه مقاما محمودا الذي وعدته.
Adapun lebih lengkapnya, setelah menirukan bacaan adzan, (kecuali pada bacaan hayya ‘alash shalah dan hayya ‘alal falaah, maka diikuti dengan bacaan: laa haula walaa quwwata illaa billah), lantas membaca shalawat Nabi saw, dan setelahnya membaca doa di atas, kemudian ditutup dengan doa untuk dirinya yang ia sukai.
9. Rajin sedekah, menebarkan salam dan gemar shalat malam. Sabda Rasulullah saw alam sebuah hadits shahih:
أفش السلام وأطعم الطعام وصل الأرحام وقم بالليل والناس نيام وادخل الجنة بسلام
“Tebarkan salam, berikanlah makanan, sambunglah tali persaudaraan, dan masuklh syurga dengan ucapan selamat”. ‌
10. Tidak meminta-minta kepada manusia meski ia butuh. Rasulullah saw bertanya:
من يكفل لي أن لا يسأل الناس شيئا وأتكفل له بالجنة؟ فقال ثوبان أنا فكان لا يسأل أحدا شيئا
“Siapakah yang menjamin kepadaku bahwa ia tidak akan meminta sesuatu kepada manusia dan aku akan menjaminnya syurga untuknya?” maka berkatalah Tsauban: “Saya”. Maka iapun tiada meminta sesuatupun kepada siapapun (selain Allah)”
.
11. Membaca ayat kursi setiap usai shalat wajib. Rasulullah saw bersabda dalam sebuah hadits shahih:
من قرأ آية الكرسي دبر كل صلاة مكتوبة لم يمنعه من دخول الجنة إلا أن يموت . ‌
“Barang siapa yang membaca ayat kursi usai shalat wajib maka tak ada yang menghalanginya dari masuk syurga selain maut.”

Jumat, 20 Maret 2015

* KH As’ad Syamsul Arifin, Mengubah Pasir Jadi Senjata *

KH As’ad Syamsul Arifin, Mengubah Pasir Jadi Senjata *


Tidak hanya dikenal sebagai tokoh pejuang dan ulama kharismatik, sosok KH As’ad Syamsul Arifin ternyata juga dikenal memiliki banyak karomah. Salah satunya bisa mengubah pasir menjadi jentuman senjata serta membelah diri menjadi dua. Bagaimanakah kisahnya?


Dideretan ulama-ulama besar di Indonesia, nama KH As;ad Syamsul Arifin tentu bukanlah nama yang asing. Ia merupakan mediator berdirinya salah satu ormas terbesar di Indonesia yaitu Nahdlatul Ulama (NU) dan juga pendiri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, Jawa timur, yang dikenal dengan jumlah ribusn santrinya.
Sebagai kiai dan ulama besar, KH As’ad tidak hanya dikenal menguasai ilmu dari para guru dan kitab-kitab hikmah saja, namun juga mempunyai banyak kelebihan atau karomah yang jarang dimiliki oleh manusia biasa.

KH As’ad Syamsul Arifin

Seperti halnya yang diungkapkan KH Fawaid As/ad, salah satu putra almarhum mengatakan jika kelebihan atau ilmu-ilmu beladiri yang dimiliki oleh sang ayah memang cukup banyak. Hal itu bukanlah semata-mata digunakan untuk menyombongkan diri, namun untuk membela agama dan mempertahankan negara dari serangan penjajah.
PEJUANG KEMERDEKAAN
Diantara kisah-kisah mengenai bukti kekaromahan KH As’ad semasa hidupnya pun terkuak dari KH Fawaid.
“Pada zaman dulu, murid-murid beliau itu banyak dari kaum bromocorah (preman,red), sehingga beliau pun banyak mendalami ilmu beladiri,” tutur KH Fawaid memulai cerita.
Ilmu-ilmu beladiri yang dimiliki KH As’ad, sambung KH Fawaid, juga diajarkan kepada para muridnya.

Ia menceritakan, saat santrinya dibekali sebilah pedang serta celurit dan disuruh saling membacok, tapi, tebasan pedang dan celurit itu tidak ada yang mencederai mereka. Sebagian murid yang lain, ada yang diuji melompat dari pohon kelaa yang tinggi dan ternyata badannya tetap utuh serta segar bugar. Yang ajaib adalah saat antara para murid itu mampu menjatuhkan puluhan buah kelapa hanya dengan sekali pandang.
Tidak hanya itu, kemasyhuran kekaromahan KH As’ad juga terbuti pada saat perang kemerdekaan.  Kepada Kisah Hikmah, KH fawaid jga mengisahkan jika pada saat perang gerilya, beberapa pejuang tampak membawa pasir. Pasir itu konon adalah pemberian dari KH As’ad kepada para pejuang. Pasir tersebut kemudian ditaburkan ke kacang hijau di dekat markas tentara Belanda atau jalan yang akan banyak dilewati tentara Belanda.
“Aneh, suatu keajaiban terjadi. Puluhan tentara Belanda yang bersenjata lengkap itu tiba-tiba lari terbirit-birit ketakutan sambil meninggalkan senjatanya. Mungkin mereka mengira suara pasir itu adalah suara dentuman senjata api. Para pejuan pun memungut satu persatu senjata yang ditinggal Belanda, “ kisah KH Fawaid.
BISA MUNCUL DI BANYAK TEMPAT
Lebih jauh, KH Fawaid bahkan menceritakan, ada kisah lain yang mengisyaratkan bahwa KH As’ad memang bukanlah ulama sembarangan. Kisah itu terjadi pada saat Kiai Mujib (teman KH As’ad) diajak KH As’ad menghadiri delapan acara walimah haji yang berada di luar kota.
Keduanya pun berangkat dari rumah, sekitar pukul 20.30 WIB. Namun anehnya, Kiai Mujib baru merasakan keajaiban yang dialaminya setelah kembali ke Sukorejo. Dia kaget lantaran delapan lokasi acara walimah haji yang didatangi oleh KH As’ad ternyata hanya ditempuh dalam waktu dua jam.
“Padahal, perjalanan pulang pergi aja memerlukan waktu dua jam, sementara mereka harus mengunjungi delapan kali acara yang tempatnya masing-masing sangat berjauhan. Ini belum lagi dihitung waktu KH As’ad memberi ceramah dan jamuan makan, yang tentu saja memakan waktu tidak sebentar. Ini ajaib. Mana mungkin perjalanan yang seharusnya memakan waktu dua jam plus semua acara yang tempatnya saling berjauhan dan memakan waktu berjam-jam itu, bisa dilakukan hanya dengan dua jam?” ungkap KH Fawaid.
Kiai Mujib pun mengemukakan kebingungannya itu kepada sopir KH As’ad, H Abdul Aziz.
“Iya..ya, kenapa bisa begitu?” katanya sambil berulang kali melihat jam tangannya untuk meyakinkan diri bahwa saat itu memang baru pukul 22.30 WIB.
“Usut punya usut, seminggu kemudian. Di Sukorejo, Haji Aziz akhirnya memperoleh info mengenai keributan yang hampir saja terjadi di antar pemilik delapan acara walimah tersebut karena masing-masing ngotot didatangi kiai pada saat yang bersamaan. Akhirnya, mereka sama-sama heran, sebab masing-masing mempunyai bukti berupa foto ketika kiai berada di rumah-rumah mereka,” imbuh KH Fawaid.
Peristiwa seperti itu tampaknya juga pernah dialami sendiri oleh KH As’ad ketika muda. Dia heran, ada kiai yang menjadi imam salat Jumat di tiga masjid dalam waktu yang bersamaan. Menurut kisah, KH As’ad bermakmum saat salat Jumat dengan imam Kiai Asadullah di Masjid Besuki. Bupati Situbondo, yang mendengar hal itu, membantah dan sambil ngotot mengatakan bahwa Kiai Asadullah hari itu mengimmi salat Jumat di Situbondo, bahkan sang bupati mengaku berdiri tepat di belakangnya. Penghulu Asembagus yang kebetulan mendengar pertikaian itu, malah menimpali bahwa Kiai Asadullah menjadi imam masjid di daerahnya.
Hal itu mengingatkan KH As’ad pada dawuh (perintah) Habib Hasan Musawa bahwa Kiai Asadullah telah mencapai maqam fana fi adz dzat, bisa menjadi tiga bahkan sepuluh dalam waktu bersamaan. Ilmu yang sama kelak akan dimiliki jiga oleh KH As’ad. Wallahu a’lam

AKHLAK SNTRI TERHADAP KYAI, KITAB DAN TEMAN-TEMANNYA

Saat ini masyarakat islam mulai menyadari bahwa islamlah dasar pendidikan yang mampu mendidik manusia menjadi makhluk yang rahmatan lil’alamin . Berbagai penelitian yang berkaitan dengan metode pendidikan diberbagai negara ternyata menyimpulkan bahwa sistem berasrama adalah sistem yang terbaik. Dimana guru sebagai pendidik dan para murid hidup dalam satu lingkungan yang sama.
Guru berperan sebagai pengajar / penyampai informasi, pembimbing, pembina dan memberi teladan bagi para muridnya dalam berbagai aspek kehidupan. Para murid pun menerima pelajaran, baik yang disampaikan secara formal maupun non formal . Sehingga proses belajar dan pembentukan kepribadian bagi murid bisa berlangsung sepanjang hari dan setiap saat. Metode ini sangat efektif dalam membentuk karakter dan kepribadian murid. Inilah hakekat dari metode pesantren.
Pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan mempunyai keunikan tersendiri dia mempunyai arti penting bagi keluarga besar pesantren itu sendiri Bahkan dalam komunitas muslim dampak positifnya bisa meluas. Tidak terbatas pada santrinya saja, tetapi juga kepada masyarakat yang hidup di sekitar pesantren. Sehingga pesantren pun bisa berperan sebagai lokomotif dalam membangun peradaban.
Pesantren memang merupakan sub kultur begitulah K.H. Abdurahman Wahid mengatakan. Ia adalah komunitas kecil bagai miniatur masyarakat yang berbaur dengan masyarkat itu endiri.
Begitu banyak orang meneliti tentang keberadaan pesantren karena varian –varian yang ditonjolkan oleh pesantren masing-masing. Dewasa ini pesantren ditantang untuk memberikan kontribusi lebih dalam mendampingi masyarakat dan negara, di nanti dan diharapkan peran positifnya bagi perkembangan sosial pendidikan masyarakat .
Untuk itu kajian makalah ini akan membicarakan sekitar harapan terhadap pesantren tentang apa saja yang harus dilakukan setelah menjelaskan apa yang telah dilakukan pesantren dalam sejarah panjangnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa pesantren ini lewat para alumninya pernah menorehkan tinta emas dalam sejarah panjang perjuangan bangsa ini .
Pondok pesantren sebagai lembaga yang berakar dalam masyarakat telah berupaya untuk tetap eksis dengan turut pula menjadikan perannya sebagai lembaga pendidikan islam, lembaga dakwah dan lembaga pengembangan dan pemberdayaan masyarakat .
Pemberdayaan masyarakat dalam arti meningkatkan taraf hidup yang lebih baik tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintan saja namun juga masyarakat itu sendiri. Dalam hal ini pondok pesantren sebagai lembaga keagamaan yang mengakar dimasyarakat dan sebagai lembaga pengembangan masayarakat sejak dahulu telah melakukan perannya yang cukup besar dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat baik dari aspek pendidikan spiritual maupun material .
Lewat tinjauan sejarah , analisa kondisi masyarakat dan analisa pesantren itu sendiri semoga tulisan ini lebih memperjelas peran pesantren dalam menjawab tantangan abad milenium III.

Peran Pesantren dalam memnjawab dinamika masyarakat

Saat ini masyarakat islam mulai menyadari bahwa islamlah dasar pendidikan yang mampu mendidik manusia menjadi makhluk yang rahmatan lil’alamin . Berbagai penelitian yang berkaitan dengan metode pendidikan diberbagai negara ternyata menyimpulkan bahwa sistem berasrama adalah sistem yang terbaik. Dimana guru sebagai pendidik dan para murid hidup dalam satu lingkungan yang sama.
Guru berperan sebagai pengajar / penyampai informasi, pembimbing, pembina dan memberi teladan bagi para muridnya dalam berbagai aspek kehidupan. Para murid pun menerima pelajaran, baik yang disampaikan secara formal maupun non formal . Sehingga proses belajar dan pembentukan kepribadian bagi murid bisa berlangsung sepanjang hari dan setiap saat. Metode ini sangat efektif dalam membentuk karakter dan kepribadian murid. Inilah hakekat dari metode pesantren.
Pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan mempunyai keunikan tersendiri dia mempunyai arti penting bagi keluarga besar pesantren itu sendiri Bahkan dalam komunitas muslim dampak positifnya bisa meluas. Tidak terbatas pada santrinya saja, tetapi juga kepada masyarakat yang hidup di sekitar pesantren. Sehingga pesantren pun bisa berperan sebagai lokomotif dalam membangun peradaban.
Pesantren memang merupakan sub kultur begitulah K.H. Abdurahman Wahid mengatakan. Ia adalah komunitas kecil bagai miniatur masyarakat yang berbaur dengan masyarkat itu endiri.
Begitu banyak orang meneliti tentang keberadaan pesantren karena varian –varian yang ditonjolkan oleh pesantren masing-masing. Dewasa ini pesantren ditantang untuk memberikan kontribusi lebih dalam mendampingi masyarakat dan negara, di nanti dan diharapkan peran positifnya bagi perkembangan sosial pendidikan masyarakat .
Untuk itu kajian makalah ini akan membicarakan sekitar harapan terhadap pesantren tentang apa saja yang harus dilakukan setelah menjelaskan apa yang telah dilakukan pesantren dalam sejarah panjangnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa pesantren ini lewat para alumninya pernah menorehkan tinta emas dalam sejarah panjang perjuangan bangsa ini .
Pondok pesantren sebagai lembaga yang berakar dalam masyarakat telah berupaya untuk tetap eksis dengan turut pula menjadikan perannya sebagai lembaga pendidikan islam, lembaga dakwah dan lembaga pengembangan dan pemberdayaan masyarakat .
Pemberdayaan masyarakat dalam arti meningkatkan taraf hidup yang lebih baik tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintan saja namun juga masyarakat itu sendiri. Dalam hal ini pondok pesantren sebagai lembaga keagamaan yang mengakar dimasyarakat dan sebagai lembaga pengembangan masayarakat sejak dahulu telah melakukan perannya yang cukup besar dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat baik dari aspek pendidikan spiritual maupun material .
Lewat tinjauan sejarah , analisa kondisi masyarakat dan analisa pesantren itu sendiri semoga tulisan ini lebih memperjelas peran pesantren dalam menjawab tantangan abad milenium III.